Jawa Pos Radar Madiun – Pemkot Madiun mengaktifkan langkah mitigasi hidrometeorologi sebagai persiapan memasuki puncak musim penghujan.
Wali Kota Madiun Maidi menegaskan seluruh elemen masyarakat, sekolah, dan instansi wajib menjaga kebersihan area sekitar sebagai bagian dari upaya mencegah banjir.
“Semua sekolah, semua kantor, radius 100 meter kanan–kiri harus bersih semua dan zero sampah,” ujar Maidi saat apel mitigasi di Balai Kota Madiun, Senin (8/12).
Pemkot juga menggandeng BBWS Bengawan Solo untuk percepatan normalisasi sungai agar aliran air tetap lancar ketika terjadi kiriman air dari Gunung Wilis maupun Ponorogo.
Pembersihan massal melibatkan kantor vertikal, perbankan, OPD, serta warga sekitar fasilitas publik.
Sebagai langkah siaga, pemkot membuka enam posko tanggap bencana yang beroperasi 24 jam.
Total 180 personel disiagakan—terdiri dari ASN eselon II, BPBD, Tagana, pramuka, DLH, DPUPR, Disperkim, serta OPD pendukung lain.
Setiap posko diisi 30 petugas dengan pembagian tiga sif, sementara mobil patroli disiapkan untuk menyisir titik rawan genangan di kecamatan.
Maidi juga menjajal alat penyedot air berkapasitas besar bantuan Pemprov Jatim.
“Kota ini harus siap lebih dini. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa, tapi kami harus menyiapkan semuanya,” tegasnya.
Plt Kalaksa BPBD Kota Madiun Muhammad Yusuf Asmadi menyampaikan bahwa seluruh posko mulai dioperasikan hari ini (9/12).
Satu posko besar didirikan di Bantaran Kali Madiun, sementara lima lainnya ditempatkan di tiap kecamatan.
Peralatan lengkap seperti alcon, gergaji mesin, alat potong, dan perlengkapan penanganan bencana disiagakan.
BPBD sebelumnya telah memetakan wilayah rawan bencana di level kelurahan.
“Dengan banyaknya posko, kami berharap masyarakat lebih tenang. Kalau ada kejadian, bisa langsung kami tangani,” pungkas Yusuf. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto