Jawa Pos Radar Madiun – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Madiun masih bergerak sangat lambat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, TPT Agustus 2025 hanya turun tipis menjadi 4,29 persen, dari 4,30 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan yang nyaris tak terasa itu dipengaruhi sikap pencari kerja, khususnya generasi Z, yang cenderung semakin selektif dalam memilih pekerjaan.
Lowongan kerja sebenarnya tersedia, namun minat pencaker tidak selalu sejalan dengan kebutuhan dunia usaha.
Kabid Tenaga Kerja Disnaker KUKM Kota Madiun Ike Yessica Kusumawati mengatakan, banyak pencari kerja enggan mengambil pekerjaan yang dianggap tidak sesuai dengan kriteria ideal mereka.
“Lowongan ada, tapi tidak sesuai minat. Akhirnya, yang mengisi justru pencari kerja dari kabupaten sekitar,” ujarnya, kemarin (18/12).
Ike mengungkapkan, pengangguran terbuka di Kota Madiun justru didominasi lulusan perguruan tinggi.
Persentasenya mencapai 6,6 persen. Disusul lulusan SMK 4,54 persen, SMA 4,38 persen, dan tidak lulus SD 4,53 persen.
Menurutnya, lulusan dengan jurusan umum seperti manajemen dan akuntansi menghadapi persaingan ketat.
Sementara ketersediaan lowongan yang sesuai relatif terbatas.
“Beberapa kali kami gelar working interview, peminat dari warga kota minim. Kebanyakan masih mengincar pekerjaan kantoran atau admin,” jelasnya.
Disnaker KUKM Kota Madiun telah menempuh berbagai upaya untuk menekan angka pengangguran.
Mulai dari Penyuluhan Bimbingan Jabatan (PBJ) ke sekolah dan perguruan tinggi, pemantauan aplikasi Si Caker, pembentukan grup WhatsApp di tingkat kelurahan, job fair, hingga pelatihan soft skill yang digelar dua kali setahun.
Namun demikian, Ike mengakui tantangan terbesar terletak pada perubahan pola pikir pencari kerja.
“Fenomena sekarang, HRD sulit mencari tenaga kerja, sementara masyarakat merasa sulit mencari pekerjaan. Kalau tidak sesuai selera, lebih memilih tidak bekerja,” ujarnya.
Berdasarkan data Disnaker, total angkatan kerja di Kota Madiun mencapai 117,33 ribu orang.
Sebanyak 112,29 ribu orang bekerja, sementara 5,04 ribu orang masih menganggur.
Mayoritas tenaga kerja terserap di sektor jasa 77,14 persen, disusul industri 20,05 persen, dan pertanian 2,82 persen.
Melalui berbagai gelaran job fair, Kota Madiun mampu membuka hingga 5.424 lowongan kerja per tahun, baik secara daring maupun luring.
Ike pun mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu memilih pekerjaan.
“Bekerja itu proses. Semua berawal dari bawah, naik setahap demi setahap,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto