Jawa Pos Radar Madiun – Pergantian tahun 2025 ke 2026 disambut meriah namun sarat makna di Kota Madiun.
Tanpa pesta kembang api, Pemkot Madiun memilih konsep selebrasi cahaya yang lebih sederhana dan berempati, namun tetap memikat ribuan warga.
Perayaan malam tahun baru dipusatkan di Balai Kota, Alun-Alun, dan kawasan Pahlawan Street Center (PSC).
Mengusung tema Madiun Berkilau 2026 dengan konsep Selebrasi Cahaya, Harapan, dan Masa Depan, rangkaian acara dimulai sejak pukul 20.30 WIB.
Wali Kota Madiun Maidi menyampaikan harapannya agar tahun 2026 membawa kebaikan yang lebih besar bagi masyarakat Kota Pendekar.
“Alhamdulillah, kita meninggalkan 2025 dan menyambut 2026 dengan penuh optimisme. Sepanjang 2025, Kota Madiun meraih 128 penghargaan. Mudah-mudahan 2026 lebih sukses lagi,” ujar Maidi, Kamis (1/1).
Ribuan warga antusias menyaksikan pertunjukan video mapping artistik yang diproyeksikan ke bangunan ikonik Balai Kota.
Visual cahaya digital menggambarkan perjalanan Kota Madiun menuju masa depan, dibalut pesan harapan dan kemajuan.
Pada momentum tersebut, Maidi juga meluncurkan Maralo, tiga maskot resmi Kota Madiun yang diperkenalkan di kawasan PSC.
Ketiga maskot tersebut adalah Madya, Rasa, dan Relo.
Madya, sang pendekar, terinspirasi dari perpaduan hewan endemik cicak pecel dan jiwa kependekaran, melambangkan kekuatan dan kepemimpinan.
Rasa, sang pecel, merepresentasikan keramahan dan kekuatan budaya lokal.
Sementara Relo, sang kereta api, menjadi simbol kemajuan serta konektivitas Kota Madiun dari masa lalu hingga masa depan.
“Tiga maskot ini adalah ciri khas Kota Madiun, yakni pendekar, pecel, dan kereta api,” tegas Maidi.
Selain itu, perayaan juga diramaikan car free night, festival kuliner, marching band, tarian cahaya, pertunjukan musik, serta hitung mundur pergantian tahun.
Detik-detik pergantian tahun ditandai dengan penyalaan ratusan lilin elektrik secara serentak.
“Tanpa kembang api pun masyarakat tetap penuh semangat. Ini luar biasa,” imbuhnya.
Pemkot Madiun memperkirakan jumlah kunjungan wisatawan pada malam tahun baru mencapai sekitar 15 ribu orang, dengan perputaran ekonomi menembus Rp 5 miliar.
Di tengah kemeriahan, Pemkot Madiun juga menggelar doa bersama dan penggalangan donasi untuk korban bencana di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh.
“Kita tetap bergembira, tapi tidak lupa berempati dan peduli kepada saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” pungkas Maidi. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto