Jawa Pos Radar Madiun – Angka kemiskinan di Kota Madiun menunjukkan tren membaik.
Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), persentase penduduk miskin tahun 2025 tercatat sebesar 3,89 persen, turun 0,49 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 4,38 persen.
Tak hanya dari sisi persentase, jumlah penduduk miskin juga berkurang signifikan.
Dari 7.840 jiwa pada 2024, menyusut menjadi 6.960 jiwa pada 2025 atau turun 880 orang.
Penurunan itu diikuti membaiknya indeks kedalaman kemiskinan dari 0,56 menjadi 0,38 serta indeks keparahan kemiskinan dari 0,09 menjadi 0,05.
Kepala Badan Pusat Statistik Kota Madiun Abdul Aziz menjelaskan, penurunan tersebut menandakan kondisi penduduk miskin semakin mendekati garis kemiskinan.
“Artinya bukan hanya jumlahnya yang turun, tetapi tingkat keparahannya juga berkurang,” ujarnya, kemarin (3/1).
Meski demikian, garis kemiskinan Kota Madiun justru mengalami kenaikan.
Dari Rp 637.838 pada 2024 menjadi Rp 666.073 pada 2025.
Menurut Aziz, kenaikan itu menunjukkan bahwa program penanggulangan kemiskinan tidak semata bersifat bantuan sosial, melainkan mulai menyentuh peningkatan pendapatan masyarakat.
“Faktor utama penurunan kemiskinan dipengaruhi pengendalian inflasi serta peningkatan pendapatan rumah tangga,” ungkapnya.
Sementara itu, Maidi menegaskan tren positif tersebut harus dijaga melalui intervensi yang tepat sasaran.
Pemkot Madiun memfokuskan program pada penduduk desil 1 hingga 3 dengan pendekatan by name by data yang disinkronkan lintas organisasi perangkat daerah (OPD).
“Semua harus bergerak bersama. Data harus sama dan intervensi tepat,” tegasnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, Pemkot Madiun mengalokasikan anggaran penanggulangan kemiskinan sebesar Rp 109,94 miliar dari APBD, ditambah dukungan CSR Rp 225 juta.
“Fokusnya diarahkan pada pengurangan beban pengeluaran, peningkatan pendapatan masyarakat, serta pencegahan munculnya kantong kemiskinan baru,” tandas Maidi. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto