Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Zero Waste Dimulai dari Pasar Besar Madiun, Sampah Diolah Jadi Pakan Magot

Erlita H • 2026-01-20 18:23:21
CACING MAGOT: Media budidaya magot sebagai bagian dari pengelolaan sampah organik di Pasar Besar Madiun untuk mendukung program zero waste. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN
CACING MAGOT: Media budidaya magot sebagai bagian dari pengelolaan sampah organik di Pasar Besar Madiun untuk mendukung program zero waste. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Pengelolaan sampah pasar di Kota Madiun mulai bertransformasi.

Tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tempat pembuangan akhir (TPA), Dinas Perdagangan Kota Madiun menggarap serius program zero waste dengan mengolah sampah organik langsung di pasar.

Langkah awal diterapkan di Pasar Besar Madiun (PBM).

Sampah organik diolah melalui budidaya magot, lele, hingga pupuk organik.

“Dimulai di PBM,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Rakyat Disdag Kota Madiun Puguh Supardianto, Selasa (20/1).

Puguh menjelaskan, budidaya magot sebenarnya telah dicoba sejak 2022.

Namun, belum berjalan optimal.

Program tersebut kembali digeber sejak tahun lalu seiring komitmen pemkot menerapkan konsep zero waste.

“Kami swadaya bersama rekan-rekan pasar menjalankan budidaya magot,” ujarnya.

Magot dipilih karena dinilai paling efektif mengurai sampah organik sekaligus memiliki nilai ekonomi.

Hasil budidaya dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Prosesnya dimulai dari pembelian bibit magot, dibesarkan hingga menjadi lalat, lalu bertelur kembali.

Seluruh proses dikelola petugas Program Jasa Kebersihan (Projasih).

Selain itu, magot hasil budidaya juga dimanfaatkan untuk pakan dua kolam lele milik Pasar Besar Madiun.

Projasih mengelola budidaya tersebut di sela jam kerja.

“Dari sampah bisa menjadi rupiah,” tegas Puguh.

Uji coba intensif dilakukan sejak September dan mulai stabil pada November.

Saat ini, Projasih juga mengembangkan pembuatan pelet campuran dari magot, sayuran, dan dedak yang berasal dari sisa sampah pasar.

Magot bisa dijual dalam kondisi segar maupun kering.

“Sisa pakan dan selongsong pupa juga dimanfaatkan sebagai pupuk organik,” jelasnya.

Ke depan, Disdag Kota Madiun menargetkan pengolahan sampah organik diterapkan di seluruh 17 pasar.

Satgas khusus akan dibentuk di tiap pasar untuk memaksimalkan potensi ekonomi sekaligus menekan beban TPA Winongo hingga 50–70 persen.

“Harapannya sampah organik bisa selesai di pasar masing-masing. Tapi tetap perlu proses,” pungkas Puguh. (err/den)

Editor : Hengky Ristanto
#Pengelolaan sampah Pasar #zero waste Madiun #Disdag Kota Madiun #madiun #Pasar Besar Madiun #TPA Winongo