Jawa Pos Radar Madiun – Di teras sebuah rumah di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Winongo, lembar-lembar kain batik tergantung menunggu proses pewarnaan.
Dari ruang sederhana itulah WMH Batik bertahan dan berkembang sebagai perajin batik khas Kota Madiun.
Usaha batik ini dirintis pasangan suami istri Lilik Widiawati dan Dwi Mei Hendra pada 2 Oktober 2018, bertepatan dengan Hari Batik Nasional.
Nama WMH merupakan akronim dari nama keduanya.
“Setelah pelatihan, langsung kami jalani serius sampai sekarang,” ujar Lilik, Selasa (3/2), mengenang awal usaha usai mengikuti pelatihan membatik dua pekan yang difasilitasi Disnaker KUKM Kota Madiun.
Berangkat dari anggapan bahwa batik kerap dianggap mahal, Lilik ingin menghadirkan batik yang bisa dipakai semua kalangan.
Kecintaannya pada seni gambar dan desain menjadi modal mengembangkan usaha yang juga berorientasi pelestarian budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO.
Meski berlatar pendidikan manajemen, Lilik menilai ilmunya tetap relevan—mulai pengelolaan usaha, pemasaran, hingga legalitas.
Merek WMH Batik kini terdaftar resmi di Kemenkumham.
Strategi pemasaran pun bertransformasi dari sekadar WhatsApp ke media sosial, Google Maps, hingga TikTok.
“Dampaknya cepat. Kami juga mendapat banyak dukungan dari pemkot,” jelasnya.
WMH Batik melayani pesanan khusus (by request) dengan ragam motif: batik pecel, Winongo, lawasan, hingga batik cap, tulis, ciprat, ecoprint, dan sogan.
Satu kain batik rata-rata dikerjakan sekitar sepekan, sementara batik sogan bisa mencapai dua pekan karena melalui tahapan pewarnaan berulang.
Harga per kain ukuran 2,5 meter bervariasi—batik cap Rp 250 ribu, batik ciprat Rp 150 ribu, batik tulis Rp 350 ribu, hingga motif khusus seperti harimau yang mencapai Rp 1,5 juta.
Produk WMH Batik dipasarkan lewat pameran, jejaring asosiasi, sekolah, hingga kelurahan. Pengiriman menjangkau berbagai daerah di Indonesia, bahkan hingga Ceko.
Tak hanya itu, WMH Batik kerap menerima kunjungan relawan dari Prancis, Amerika Serikat, Australia, dan Jepang—menjadikannya etalase budaya batik Madiun bagi dunia.
Selain kain, WMH Batik mengembangkan produk turunan seperti busana, mini bag, mukena, dan sarung.
Usaha ini juga memberdayakan warga sekitar, termasuk seorang janda di lingkungan tempat tinggalnya.
Tantangan terbesar, menurut Lilik, datang dari cuaca dan pemasaran.
Musim hujan kerap mengganggu proses pewarnaan.
Di sisi lain, edukasi pasar masih dibutuhkan agar masyarakat memahami perbedaan batik tulis perajin dengan kain bermotif pabrikan.
“Tantangannya bagaimana masyarakat mau memakai batik asli dari perajinnya,” pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto