Jawa Pos Radar Madiun – Perayaan Tahun Baru Imlek tak sekadar seremonial.
Sesepuh TITD Hwie Ing Kiong Madiun Herman Tanaka menegaskan, Imlek menjadi momentum penting masyarakat Tionghoa untuk meninggalkan hal lama dan memulai harapan baru.
Imlek juga dikenal sebagai Festival Musim Semi.
Perayaannya jatuh pada tanggal 1 bulan pertama dalam kalender Imlek.
’’Jadi, festival musim semi ini juga dinamakan Xin Nian, tahun baru Imlek,’’ ujarnya, Minggu (15/2).
Menurut Herman, Imlek merupakan hari raya paling penting dalam tradisi Tionghoa.
Sebab, tahun baru dimaknai sebagai kesempatan memperbaiki diri.
Dalam perayaan Imlek, kue keranjang selalu hadir sebagai simbol.
Kue tersebut dikenal dalam bahasa Mandarin sebagai Nian Gao.
Nian berarti tahun, sedangkan Gao berarti kue.
Namun, dalam makna aksara, Nian Gao juga dimaknai sebagai harapan agar kehidupan semakin meningkat dari tahun ke tahun.
’’Jadi terus maju, terus ke atas,’’ tambah Herman.
Kue keranjang biasanya disusun bertumpuk besar kemudian mengerucut kecil.
Susunan itu menjadi perlambang peningkatan dan keberuntungan.
Herman menjelaskan, berdasarkan kitab Yi Jing (I Ching), tahun ini masuk dalam Tahun Kuda Api (Fire Horse).
Tahun ini juga disebut Tian Di Ren He. Maknanya, langit bersatu dengan bumi dan manusia.
Konsep itu merupakan prinsip keselarasan tertinggi dalam filosofi Tionghoa.
Tian atau langit dipahami bukan sekadar langit fisik, melainkan energi alam semesta, takdir, dan kehendak tertinggi.
’’Nah, ini kesempatan untuk menuju yang lebih baik,’’ katanya.
Karena itu, Herman berharap Imlek menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus bertumbuh.
Menjadi lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
’’Dengan demikian, melalui tahun baru Imlek ini masyarakat diberikan kesempatan untuk menjadi lebih baik lagi,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto