MAGETAN – Kekeringan berimbas parah terhadap wilayah Magetan. Diprediksi terjadi hingga Agustus mendatang, bencana kali ini tidak hanya berakibat krisis air bersih, tetapi juga ketersediaan irigasi. Pertanian pun terancam.
Di sisi lain, saat ini debit Waduk Gonggang di Desa Janggan, Kecamatan Poncol, menurun. Itu terjadi karena intensitas musim hujan rendah. Akibatnya, inflow atau air yang masuk ke waduk berkurang. ‘’Terjadi penyusutan (debit air), dalam sehari mencapai 3 sentimeter dari batas normalnya 1,9 juta meter kubik,’’ kata Anis Hidayat, pengelola Waduk Gonggang, Kamis (11/7).
Dengan kondisi tersebut, debit air dikeluarkan atau outflow berkisar 6,4 meter kubik per detik. Itu untuk mencukupi kebutuhan irigasi dan suplai air baku warga di empat kecamatan. Meliputi Lembeyan, Poncol, Parang, dan Ngariboyo. ‘’Lahan pertanian yang kami suplai seluas 1.223 hektare,’’ ungkapnya.
Anis menambahkan dengan sisa debit air itu diperkirakan hanya mampu mencukupi kebutuhan irigasi dan air baku warga selama empat bulan ke depan. Oleh sebab itu, pihaknya sangat berharap warga bisa menghemat penggunaan air waduk. ‘’Yang pasti jika kondisi cuaca terus menerus seperti ini, bisa jadi para petani tidak bisa mendapatkan pasokan air,’’ terangnya.
Bagaimana solusinya? BPBD Magetan masih berfokus menangani krisis air untuk konsumsi warga. ‘’Sedangkan pembuatan sumber air bagi lahan pertanian saat ini masih berjalan. Harus bertahap,’’ Kabid Sumber Daya Air DPUPR Magetan, Yuli K. Iswahyudi.
Sementara itu, kekeringan justru membawa berkah bagi pengelola sumber air bersih di Magetan. Misalnya, para penjual air isi ulang. Omzet mereka naik hampir tiga kali lipat. ‘’Rata-rata untuk konsumsi rumah tangga,’’ kata Abdurrahman, salah seorang penjual air. (mgc/her)
Editor : Administrator