GAPURA masuk sang pionir hanyalah sebuah gang. Diapit kantor koperasi dan bank pemerintahan. Di belakangnya, Ki Ageng Mageti disemayamkan. Jelang tiga setengah abad, sejarah Magetan seperti ikut terkubur di dalamnya. Terimpit dan samar.
.........................
HARI INI (12/10) 344 tahun lalu, Ki Ageng Mageti mendirikan kabupaten ini. Namun, cerita itu dituturkan secara turun-temurun. Tidak tertulis dalam disiplin pengarsipan yang terang benderang. Sumber sejarah yang beredar selama ini belum berbobot. Buku yang menuliskannya pun tak mencantumkan catatan kaki. Sulit menelusuri jejak referensinya pada arsip orisinal. Bukan berarti buku-buku yang ada tidak kredibel. ‘’Yang namanya karya ilmiah kan harus jujur,’’ kata Bupati Magetan Suprawoto.
Kang Woto –sapaan Bupati Magetan Suprawoto- tetap memercayai kisah berdirinya kabupaten ini mendasar babat alas Ki Ageng Mageti. Mendasar penjelasan Prof Dr Peter Carey. Baik lewat tulisan pengantarnya dalam buku Ong Hok Ham (1933-2006) berjudul Madiun dalam Kemelut Sejarah: Priyayi dan Petani di Karesidenan Madiun Abad XIX. Maupun serak pemikirannya yang banyak berkutat seputar Pangeran Diponegoro. Sejarawan Inggris itu menjelaskan tentang daerah di bagian barat Jawa Timur. Berawal dari pernikahan Raden Ronggo III dengan Ratu Maduretno Putri dari Sultan Hamengkubuwono II. Di mana, pusat pemerintahan berada di Kadipaten Maospati. Kadipaten Purwodadi dipercaya menjadi benteng saat melawan Belanda pada perang Jawa. Sedangkan Madiun, termasuk Magetan, merupakan daerah penyokong perjuangan pahlawan bernama lengkap Bendara Raden Mas Antawirya itu. ‘’Nah, ini saling berkaitan,’’ ujarnya.
Sayangnya, kiprah Ki Mageti tak dijelaskan. Nama Magetan merupakan penghormatan dari Basah Gondokusumo yang saat itu diizinkan Ki Mageti untuk membuka lahan di sebelah utara Kali Gandong (sekarang Kelurahan Tambran). Semula bernama Magetian, lama-kelamaan menjadi Magetan. ‘’Saat itu, Ki Mageti yakin Basah Gondokusumo masih kerabat Mataram. Akhirnya diperbolehkan,’’ terangnya.
Sejak awal, Basah Gondokusumo berseberangan dengan Belanda. Keputusannya membuka lahan itu setelah dirinya diasingkan selama 40 hari di kediaman kakeknya Basah Suryaningrat di Semarang. Setelah menghadap dan mendapat restu dari Ki Mageti, Basah Gondokusumo berhasil membuka lahan itu, kemudian menjadi penguasa. Dia dinobatkan sebagai adipati pertama Magetan. Penobatan itu ditandai dengan candra sengkala manunggaling rasa hambangun yang dimaknai dengan tanggal 12 Oktober 1675. ‘’Tanggal itulah yang kini dimaknai sebagai berdirinya Magetan,’’ sebutnya.
Kang Woto mengakui tidak ada bukti pasti. Seperti prasasti atau penanda lain yang menjadi otentik. Bahkan, makam Ki Mageti sebagai pendiri kabupaten ini sempat salah lokasi. Sebelum ditetapkan petilasan di belakang kantor KPRI Kokarddan Magetan pada 1985 silam, masyarakat meyakini makamnya di samping Masjid Agung Baitussalam. Setelah ditelusuri, makam di belakang kantor KPRI itulah yang dianggap makam Ki Mageti dan ditetapkan sebagai petilasan Ki Mageti. ‘’Ada dua makam. Diyakini suami istri,’’ ungkapnya.
Sebagai bupati Magetan, Kang Woto ingin mengetahui kepastian sejarah tersebut. Selain menginstruksikan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Magetan ke Arsip Nasional, dia juga meminta putrinya yang dinikahi warga Belanda untuk mencari arsip Magetan ke perpustakaan di Negeri Kincir Angin. ‘’Apa saja yang menceritakan tentang sejarah Magetan. Jika harus menyertakan permohonan resmi, akan saya buatkan,’’ katanya. (bel/c1/fin)
Tak Ketemu di Jakarta, Kejar sampai Belanda
TAK selembar tulisan tentang Ki Ageng Mageti tersimpan di rak buku Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Magetan. ‘’Sampai sekarang kami masih belum memiliki arsip tentang Ki Mageti,’’ kata Kepala Dinas Arpus Magetan Gatot Sapto Priyono.
Benang merah sejarah kabupaten ini yang direferensikan hanyalah buku Apa&Siapa Magetan?. Disusun tim Pemkab Magetan bertepatan Hari Jadi Kabupaten ke-312 pada 1986-1987 di era Bupati Sihabudin. Kelanjutan dari buku Sejarah Kabupaten Magetan yang ditulis satu dekade sebelumnya. ‘’Kalau buku itu kan karangan, biarpun ada sumbernya. Berbeda dengan arsip, karena berbicara tentang masa lalu,’’ ujarnya.
Anggaran yang dimiliki tak memungkinkan untuk penelusuran. Baru tahun ini Arpus Magetan mendapat perhatian. Paling cepat bulan ini, Gatot berangkat ke Arsip Nasional. Dia optimistis bisa mendapat secercah titik terang tentang pendiri Magetan. ‘’Kalaupun tidak ada, mau tidak mau kami harus ke Belanda,’’ tuturnya.
Penelusuran memang sulit ditelusuri dari kabupaten sendiri. Dinas arpus tak memiliki bukti konkret bahwa 12 Oktober 1675 adalah tanggal berdirinya Magetan yang hingga kini menjadi patokan. Itu merupakan tanggal dilantiknya Basah Gondokusumo yang saat itu bergelar Yosonegoro menjadi penguasa Magetan (dulunya Magetian) atau menjadi Adipati Yosonegoro. Dia diyakini menjadi bupati Magetan pertama. Sayang, Dinas Arpus Magetan tak memiliki arsipnya. ‘’Arsip tertua yang kami miliki tahun 1942,’’ sebutnya.
Gatot mengamini adanya kejanggalan. Saat pelantikan itu, semestinya sudah ada peradaban sebelumnya. Artinya, Magetan sudah berdiri sebelum hari pelantikan itu. Jika itu bisa dibuktikan, ada kemungkinan Hari Jadi Kabupaten Magetan berubah. Sebab, jika mendasar pada cerita berdirinya Magetan selama ini, Ki Mageti sudah menetap di Dukuh Gandong Kidul (sekitar alun-alun Magetan). Kemudian, datanglah Basah Suryoningrat dan Basah Gondokusumo karena tak ingin bersekutu dengan VOC. Sedangkan, jika seseorang dianggap sebagai babat alas, maka dia memulai membangun peradaban di suatu wilayah. ‘’Kami ingin mengurai kerancuan ini,’’ katanya.
Gatot bukannya ingin mengubah sejarah yang telanjur dipercaya di tengah masyarakat. Namun, ingin memperjelas arahnya sebagai wujud penghormatan terhadap pendiri kabupaten ini. Masyarakat tentunya bertanya-tanya, seperti apa Ki Mageti. Pun, tak sekadar menerbitkan buku, juga menyajikan arsip masa lalu. ‘’Karena dipercaya sebagai pendiri, kalau tidak ada beliau, mana mungkin kita semua bisa menempati dan tinggal di Magetan ini,’’ pungkasnya. (bel/c1/fin)
Bupati Pertama Tutup Usia di Akhir Prahara
LEBAT alas di lereng Gunung Lawu itu dibabat menjadi kabupaten yang pertama kalinya dipimpin Bupati Yosonegoro. Semasa muda, cucu Raden Basah Suryaningrat itu berjuluk Basah Gondokusumo. ‘’Beliau masih garis keturunan Kerajaan Mataram,’’ kata Suwito, juru kunci makam Bupati Yosonegoro.
Sebagai kerabat keraton, Basah Gondokusumo sempat dituduh bersekutu dengan ulama menentang Sultan Amangkurat I yang saat itu bekerja sama dengan Belanda. Sempat melarikan diri hingga bertemu Ki Ageng Mageti. ‘’Karena tahu di timur Gunung Lawu sedang ada babat alas, akhirnya datang menemui Ki Mageti,’’ ujar ketua RW III Kelurahan Tambran itu.
Ki Mageti tak memberikan tanah dengan mudah. Setelah melewati perdebatan panjang, barulah hatinya luluh setelah tahu bila Basah Gondokusumo masih kerabat keraton. ‘’Beliau wafat tahun 1703 dan dimakamkan di Setono Gedong ini,’’ terangnya.
Radar Magetan tak mendapati literatur mengenai bupati pertama itu. Buku sejarahnya tak tersimpan di dinas pariwisata dan kebudayaan, melainkan di Distrik Maospati yang kini sedang direhab. Literaturnya di perpustakaan daerah juga telah dikarantina lantaran bakal dipindahkan.
Jojo Priyono mengisahkan, di masa awal Magetan sempat terjadi prahara. Kabupaten ini diserang wabah penyakit yang mengakibatkan kekisruhan sosial. Stok bahan makanan berkurang dan perampokan merajalela. ‘’Saat itu, Bupati Yosonegoro sempat meminta bantuan ke pusat pemerintahan Mataram. Sampai kondisi Magetan berangsur pulih dan aman. Tak lama setelah itu, beliau wafat,’’ papar pegiat sejarah Wukir Mahendra itu. (fat/c1/fin)
Editor : Administrator