‘’Akibatnya, mengganggu pasokan kedelai ke berbagai negara, termasuk Indonesia,’’ jelas Sucipto.
Menurut Sucipto, selama ini banyak negara menggantungkan pasokan kedelai dari Brazil, Argentina, serta Amerika Serikat. Berbagai negara tersebut baru akan memasuki masa panen pada bulan ini hingga Desember. Sementara, pasokan kedelai lokal disebut kurang mencukupi kebutuhan.
‘’Hukum pasar akhirnya berlaku, barang tidak ada, otomatis harga naik. Ini jadi faktor kedua,’’ jelasnya.
Faktor ketiganya yakni persaingan pasar antara Indonesia dengan Tiongkok. Kedua negara sama-sama membutuhkan banyak pasokan kedelai dari luar negeri. Di Negeri Tirai Bambu, kedelai jadi pakan ternak. ‘’Yang seharusnya dikirim ke Indonesia kemungkinan berkurang karena banyak yang dilarikan ke Tiongkok,’’ sebut Sucipto.
Harga kedelai di pasaran, lanjut Sucipto, tembus Rp 15 ribu per kilogram. Menurut dia, tak ada yang bisa dilakukan pemerintah daerah untuk mengintervensi masalah ini. Kewenangan lebih dimiliki pemerintah pusat. Misalnya dengan mensubsidi harga kedelai untuk produsen. ‘’Daerah tidak bisa melakukan proteksi,’’ tandasnya. (mg1/naz) Editor : Hengky Ristanto