Gedung megah yang dibangun menggunakan dana pemerintah pusat itu masih sepi pengunjung. ‘’Ada beberapa faktor,’’ ujar Kepala Dinas Arpus Magetan Suhardi.
Sepanjang tahun lalu, Graha Pusat Literasi baru dikunjungi 1.158 orang. Suhardi mengamini bahwa koleksi di Graha Pusat Literasi belum selengkap perpustakaan daerah (perpusda). Baru di Oktober lalu pihaknya menambah sarana dan prasarana perpustakaan.
‘’Koleksi di Graha Pusat Literasi lebih difokuskan ke pustaka digital,’’ imbuh Suhardi.
Dia mengklaim, upaya promosi sudah gencar dilakukan. Baik melalui media sosial sampai lewat pesan singkat. Tujuannya supaya menarik minat berkunjung masyarakat. Tapi hingga kini, minat berkunjung tak juga terkerek.
‘’Kami juga sering menggelar kegiatan. Misalnya mengumpulkan novelis dan sastrawan,’’ ujarnya.
Pembangunan Graha Pusat Literasi menelan biaya Rp 2,8 miliar. Pemerintah berharap fasilitas miliaran tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk membaca, menulis, dan melakukan kegiatan-kegiatan literasi.
‘’Gunakan tempat ini sebagai sarana berliterasi, tidak hanya baca tulis, tapi juga pelatihan bisa digelar di sini,’’ pesan Bupati Magetan Suprawoto.
Okky Madasari juga ikut berupaya meramaikan Graha Pusat Literasi. Penulis kenamaan itu menyumbangkan 2.000 judul buku untuk mengisi gedung yang diresmikan pada 2021 tersebut. ‘’Sebagai pemantik anak muda untuk berliterasi dan berinovasi di Graha Pusat Literasi,’’ tutur Okky. (hyo/naz) Editor : Hengky Ristanto