Nama pendiri masjid ini sesuai dengan nama yang disematkan. KH Abdurrohman masih kerabat dengan pendiri Ponpes Tegalsari, Ponorogo. Masjid ini dibangun seusai pendirinya itu menunaikan ibadah haji. Saat di tanah suci, KH Abdurrohman meminta kepada imam besar di Masjidil Haram untuk medoakan sumur di Tegalrejo agar memiliki khasiat yang sama seperti air zam–zam.
Imam itu pun menuliskan doa di dalam kertas lalu dimasukkan ke dalam air zam-zam. Sembari berpesan jika sudah sampai Tegalrejo dan melihat tulisan dalam kertas itu di dalam sumur berarti airnya dianggap memiliki kesamaan dengan sumur di tanah suci yang mengeluarkan sumber air zam-zam.
‘’Qodarullah (takdir Allah) sampai di Tegalrejo, KH Abdurrohman melihat tulisan tersebut di dalam sumur,’’ tutur Ananda Karya, takmir masjid setempat.
Kandungan air dari sumur itu pernah dilakukan proses pengujian oleh tim produsen air minum. Hasilnya, airnya memiliki PH lebih dari delapan. Artinya, memiliki kandungan mineral tinggi. ‘’Sampai sekarang, airnya dimanfaatkan oleh santri dan masyarakat sekitar.’’
Bangunan lama masjid masih utuh. Berikut mimbarnya yang bersimbol tulisan Muhammad kembar. Itu menandakan masjid ini berdiri di era Mataram Islam. Juga beduk berdiameter 80 sentimeter. Di masjid ini juga tersimpan beberapa empu (pusaka) peninggalan pendirinya.
‘’Meski tergolong bersejarah, pengurus sepakat tidak mendaftarkannya sebagai Benda Cagar Budaya (BCB). Kalau sudah terdaftar, dikhawatirkan justru kesusahan jika ingin merenovasi sewaktu- waktu,’’ ungkapnya.
KH Abdurrohman beserta keluarga besarnya dimakamkan di komplek masjid. Sebelum Ramadan, masjid ini rutin menyelenggarakan Jumat Pungkasan sebagai ajang silaturahmi oleh seluruh santri, alumni dan masyarakat umum. ‘’Tiap menjelang berbuka puasa rutin pembacaan istigfar dan salawat. Dilanjutkan tausiyah bakda tarawih,’’ tuturnya. (mg1/fin) Editor : Hengky Ristanto