MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun - Petani jeruk Pamelo sambat. Kondisi sulit air saat kemarau menjadi ketakutan tersendiri bagi mereka.
‘’Tanaman jadi layu karena kurang air,’’ kata Sarmini, seorang petani jeruk Pamelo di Desa Tamanan, Sukomoro, kemarin (8/9).
Sarmini menyampaikan, pengairan dari sumur menjadi solusi kekeringan. Namun, hal itu membutuhkan biaya tak sedikit.
‘’Semoga ada bantuan sumur dari pemerintah,’’ harapnya.
Handono, petani lain, sependapat terkait betapa pentingnya sumur bagi jeruk Pamelo saat kemarau. Air tak mungkin sampai ke kebun tanpa sumur.
Baca Juga: Antisipasi Potensi Kekeringan Terdampak El Nino, Bulog Siapkan 140 Ton Beras untuk Magetan
‘’Air dari Hippa (himpunan petani pemakai air) kurang, antrenya juga rebutan,’’ ungkapnya.
Tanda-tanda tanaman jeruk Pamelo yang kekurangan air sudah tampak. Saat ini, banyak batang tanaman mengeluarkan getah. Semakin kurang air, getah yang keluar semakin banyak.
‘’Ujung-ujungnya tanaman mati. Tapi, masalah getah itu akan beres kalau air cukup,’’ ujar Handono.
Menurut Handono, air merupakan keperluan utama petani. Penentu tanaman hidup. Pun, penentu bunga bisa menjadi buah. Termasuk jeruk Pamelo. Yang mana, bakal layu serta menguning lalu mati jika tidak cukup air.
‘’Kalau sampai mati, perlu lima tahun untuk bisa panen tanaman baru,’’ pungkasnya. (ril/den)
Editor : Budhi Prasetya