MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Menjaga konsistensi tak segampang membalik telapak tangan. Namun, hal itu coba dilakukan para perajin jerangking di Kelurahan Sukowinangun, Magetan.
"Kami tetap menggunakan metode tradisional agar cita rasa tidak berubah,’’ kata Agus, perajin jerangking, kemarin (6/10).
Jerangking adalah makanan ringan bertekstur renyah. Camilan yang sudah diproduksi sejak 1998.
Puluhan tahun sudah Agus dan perajin lain mempertahankan metode pembuatan tradisional.
"Kami tidak tersaingi dengan masa modern, pembeli tidak menurun,’’ ungkapnya.
Jerangking dibuat dari beras ketan, kelapa parut, garam, dan sedikit tepung tapioka.
Bahan-bahan itu dicampur kemudian dipotong persegi tipis-tipis lalu dijemur hingga kering.
Selanjutnya, potongan dibakar di atas bara arang. Jerangking siap disantap saat warna berubah kecokelatan.
‘’Dibakar manual, kalau pakai kipas listrik rasanya berubah,’’ ungkapnya.
Camilan khas Magetan itu dijual belasan ribu rupiah per kemasan isi 40 keping jerangking.
‘’Alhamdulillah, ada rezeki. Tapi, ada kendala saat harga bahan dasar naik,’’ pungkasnya. (ril/den)
Editor : Budhi Prasetya