MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Gunung Lawu disorot Pemprov Jatim. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mendatangi Posko Satgas Penanganan Karhutla BKPH Lawu Selatan di Desa Ngiliran, Kecamatan Panekan, Magetan, kemarin (10/10).
Sejumlah poin-poin penting disampaikan Khofifah Indar Parawansa sebagai penekanan agar karhutla Gunung Lawu tertangani maksimal. Diantaranya, keberadaan sekat bakar atau ilaran.
Khofifah Indar Parawansa menyampaikan, sekat bakar harus rutin dicek. Termasuk ilaran antara hutan lindung dan produksi.
‘’Jangan sampai api terbawa angin melewati sekat bakar, ekonomi juga akan berdampak,’’ tegas Khofifah.
Seminggu lebih karhutla terjadi. Berhektare-hektare lahan, baik yang masuk wilayah Magetan maupun Ngawi, jadi sasaran amuk si jago merah.
“Lahan yang terbakar agar di-recovery sesuai tipologi wilayah,’’ ungkap Khofifah.
Perkembangan kondisi karhutla terus dipantau. Sejumlah pihak terkait dilibatkan. Itu dilakukan agar skema penanganan berjalan efektif.
Seperti, penerapan water bombing . Upaya pemadaman dengan cara mengguyur titik api dengan air menggunakan helikopter itu perlu kejelasan titik koordinat.
‘’BNPB juga melakukan pemantauan,’’ ujarnya.
Administratur KPH Lawu Ds Agus Ahmad Fadoli menambahkan untuk lahan terbakar di wilayah Magetan sudah mencapai 700,5 hektare.
‘’Jumlah itu belum final karena masih diakses kembali di lapangan hingga saat ini,’’ kata Agus.
Berbagai upaya penanganan karhutla terus dilakukan. Sebanyak 150 personel kemarin diterjunkan untuk memantau kondisi lapangan. Termasuk empat tim drone.
‘’Water bombing masih dilakukan. Satu titik api ada di petak 51 RPH Bedagung, hutan produksi dalam kondisi aman,’’ pungkasnya. (ril/den)
Editor : Budhi Prasetya