MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Petani pemilik puluhan hektare lahan di Desa Baleasri, Ngariboyo, gigit jari. Buntut embung Titang Krajan di desa setempat yang kering kerontang.
"Kalau penuh, embung bisa memenuhi kebutuhan irigasi untuk 75 hektare sawah,’’ kata Joko Subagio, penjaga embung Titang Krajan, kemarin (12/10).
Sama sekali tak ada air di Embung Titang Krajan, Magetan, saat ini. Bahkan, bagian dasarnya sudah sarat retakan tanah.
Kalau sudah seperti itu, petani yang merugi. Terutama mereka yang butuh air embung untuk irigasi.
"Ada sekitar 10 hektare lahan palawija di Desa Baleasri yang belum panen,’’ ungkap Joko.
Keringnya embung tahun ini menjadi yang terparah. Joko menyampaikan, embung bisa mencukupi kebutuhan air irigasi hingga musim tanam ketiga. Namun, hal itu tak terjadi kemarau ini.
"Pintu air embung sempat bermasalah sejak enam bulan lalu (April, red),’’ bebernya.
Kerusakan berakibat daya tampung embung tak maksimal. Joko menyebutkan, volume air berkurang sekitar 40 persen akibat kerusakan.
Ditambah penyusutan dampak kemarau sejak Agustus lalu, kebutuhan air irigasi dipastikan tak terpenuhi.
"Dampak kondisi seperti ini, petani terancam gagal panen. Tapi, kerusakan pintu air saat ini sudah diperbaiki,’’ pungkasnya.
Sebelumnya, pintu air Telaga Sarangan, Magetan, kembali dibuka. Pembukaan tersebut difokuskan ke sektor pertanian. Wilayah sasaran pengaliran air disesuaikan.
"Pintu air dibuka lagi untuk tiga kawasan pertanian sejak 28 September lalu," kata Kabid Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Magetan Yuli Karyawan Iswahyudi, Senin (9/10) lalu.
Yuli menyampaikan, pintu air Telaga Sarangan sebelumnya dibuka untuk beberapa keperluan. Yakni, untuk Gabungan Himpunan Petani Pemakai Air (Ghippa) di Gandong Kidul, Gandong Tengah, serta Kali Tengah.
Pun, bagi Pabrik Gula Rejosari. Yang mana, pengaliran air untuk beberapa sasaran tersebut dihentikan sejak 25 September 2023.
"Kawasan pertanian tujuan pembukaan pintu air saat ini untuk wilayah Plaosan, Magetan, dan Sukomoro," ungkapnya.
Belum dapat dipastikan kapan pintu air Telaga Sarangan bakal ditutup kembali. Yuli menyampaikan, debit air saat ini di angka 12 meter elevasi muka air.
"Pintu air akan ditutup kalau kedalaman mencapai tujuh meter elevasi muka air. Kami perkirakan (ketersediaan air, Red) masih cukup sampai akhir Oktober," ujarnya. (ril/den)
TENTANG EMBUNG TITANG KRAJAN
- Terjadi kerusakan pintu air April lalu
- Volume air berkurang sekitar 40 persen
- Penyusutan dampak kemarau terjadi sejak Agustus
- Kondisi saat ini kering kerontang
- Bisa mencukupi kebutuhan irigasi 75 hektare sawah
- Ada sekitar 10 hektare lahan palawija belum panen
Editor : Budhi Prasetya