Oleh: Suprawoto, bupati Magetan 2018-2023
PERISTIWA 10 November 1945 membawa korban begitu banyak. Disusul agresi Belanda juga menambah penderitaan rakyat. Rakyat mencari perlindungan yang aman.
Harta benda ditinggalkan. Bahkan putra-putrinya ikut berjuang di bawah Tentara Pelajar.
Sanak-saudara banyak terpisahkan karena kemerdekaan telah menjadi harapan bersama bangsa Indonesia.
Kedaulatan dan pengakuan internasional diperoleh. Sayang era Sukarno justru banyak disibukkan dengan persoalan konflik politik antara saudara sendiri.
Selain itu, politik sebagai panglima dianggap telah ikut memporak-porandakan semua mimpi akan segera mencapai kemajuan dan kemakmuran.
Mahasiswa bersama rakyat kemudian turun dengan Tritura-nya.
Tiga tuntutan disuarakan oleh para mahasiswa, pertama bubarkan PKI beserta ormas-ormasnya; kedua, Perombakan Kabinet Dwikora; ketiga, turunkan harga.
Rakyat betul-betul menderita dengan kenaikan harga yang sangat luar biasa. Kesulitan pangan terjadi dimana-mana.
Gaplek, jagung bahkan bulgur harus didatangkan. Konon di negeri asalnya bulgur sebagai makanan kuda. Tapi memang bisa dimakan manusia karena bahannya dibuat dari gandum.
Bahkan orang tua, seingat saya sebagai prajurit TNI AD pernah mendapat jatah bulgur ini. Jadi saya ikut merasakan betul bulgur dan juga kesulitan ekonomi waktu itu.
Dalam rangka usaha membersihkan dari unsur PKI dan ormasnya, ratusan ribu menjadi korban.
Tentu peristiwa itu menjadi trauma tersedendiri yang pernah mengalaminya. Dan masa itu saya ikut merasakan nuansa ketakutan, kesulitan, penderitaan rakyat dalam berbagai bentuknya.
Orde Lama turun, digantikan Orde Baru. Harapan rakyat terhadap rezim ini begitu besar. Mimpi untuk keluar dari keterpurukan membuncah.
Kabinet yang disusun rezim Orde Baru memberi harapan besar. Para profesional dan kalangan kampus dilibatkan dalam pemerintahan. Pada awal-awal perhatian kepada kepentingan masyarakat mengedepan.
Namun seiring berjalannya waktu, lamanya rezim ini berkuasa, kebebasan menjadi barang langka. KKN malahan seperti dipelihara.
Puncaknya ketika terjadi krisis ekonomi 1998. Dibarengi dengan krisis kepercayaan kepada penguasa yang sudah memerintah demikian lama.
Mahasiswa dan rakyat bergerak, memaksa menyuarakan reformasi sebagai senjata utama.
Penguasa bisa diturunkan, namun demikian mahal harga yang harus dibayar. Korban nyawa mahasiswa penerus bangsa terjadi.
Kerusuhan yang membawa jargon sangat rasis terjadi antar anak bangsa. Bahkan korbannya saja, simpang-siur jumlahnya. Namun luka itu pasti telah menjadi noda untuk perjalanan sejarah bangsa.
Cek kosong diberikan bangsa ini kepada yang berkuasa di era roformasi ini. Tuntutannya sangat wajar dan sederhana. Bawalah bangsa ini ke arah kemajuan, kemakmuran dan keadilan.
Jauhkan dari sintimen yang menjadikan bangsa ini terpecah belah. Bawalah Pancasila sebagai pedoman bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam arti yang sesungguhnya.
Dan nampaknya semua partai politik di negeri ini pernah ikut berkuasa. Nikmatnya berkuasa. Dan rakyat semua ikut merasakan dan menjadi saksi akan semua sepak terjang yang pernah dilakukannya.
Betul-betul untuk kepentingan rakyat, golongan atau dirinya sendiri. Yang jelas, rakyat Indonesia telah merekam dan mencatatnya.
Tahun baru 2024 tiba. Semua rakyat pasti berharap dengan hati berbunga-bunga. Berharap akan kemajuan dan kebaikan bangsa ini.
Apalagi penguasa baru dan wakil rakyat akan juga tiba. Yang kehadirannya dengan cap telah dipilih melalui pemilu, telah sah untuk berbuat apa saja terhadap bangsa ini.
Rakyat Indonesia, akan mencatatnya. Jangan-jangan yang diterima nanti hanya pepesan kosong belaka. Penguasa dan wakil yang baru hanya copy paste perilaku sama seperti yang lalu.
Betapa menderitanya bangsa ini. Apakah doa, usaha, bahkan korban yang telah banyak berjatuhan masih kurang untuk tumbal kemajuan bangsa. Jawabannya terpulang kepada kita untuk masing-masing menilainya.
Selamat datang tahun 2024!!!!! (*)
Editor : Mizan Ahsani