MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Desa Simbatan, Nguntoronadi, ternyata memiliki produk batik yang kini menjadi ikon Magetan. Sesuai teknik pembuatannya, batik Simbatan itu diberi nama batik ciprat.
Teknik batik ciprat dikenalkan di Desa Simbatan sejak 2018 dan kini telah menjadi bagian tak terpisahkan identitas batik Magetan. Yang menarik, perajin yang dilibatkan dalam proses produksi adalah para penyandang disabilitas.
‘’Saat ini ada 17 disabilitas yang aktif dalam produksi batik ciprat di sini,’’ kata Deni Mustika, pendamping batik ciprat desa setempat.
Meski memiliki keterbatasan, kata Deni, semangat para penyandang disabilitas itu patut diacungi kempol. Mereka berproduksi mulai pukul 07.00 sampai 15.00 WIB.
‘’Batik ciprat sudah merambah semua kalangan di Magetan. Pak Suprawoto (mantan bupati, Red) juga telah mematenkannya sebagai pakaian resmi pemkab,’’ ungkapnya.
Untuk mendorong kemandirian para penyandang disabilitas itu, para pendamping hanya beberapa kali memberikan pelatihan teknik dasar. Setelah itu, mereka dibebaskan berkreasi.
‘’Saat ini sudah ada 10 motif, yaitu merak, belut, gedheg, nugget, garuda, Gatotkaca, meteor lurus dan silang, gebyok, gangsing, serta layang-layang,’’ bebernya.
Sementara, bahan yang digunakan beragam, mulai kain rayon, katun PBK, katun prima, hingga katun Jepang.
‘’Harga batik ciprat mulai Rp 100 ribu sampai Rp 250 ribu, tergantung jenis kainnya,’’ ujar Deni. ‘’Omzetnya saat ini Rp 30 juta-Rp 50 juta per bulan,’’ imbuhnya. (ebo/isd)
Editor : Hengky Ristanto