MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Waktu berbuka puasa menjadi salah satu momen yang dinantikan bagi umat muslim.
Menjelang waktu beduk magrib itu banyak orang berburu takjil yang menggugah selera dan menyegarkan.
Bagi kaum muslim, takjil yang dibeli itu untuk disajikan di rumah yang bakal dinikmati bersama keluarga.
Tak heran jika setiap ramadan marak penjual makanan dadakan. Mereka menggelar lapak menjajakan ragam takjil.
Suasana itu juga tersaji di kawasan Ponpes Al-Fatah Temboro, Magetan. Persisnya di Jalan Madinah, santri dan warga berbaur membeli santap buka puasa.
Di daerah berjuluk Kampung Madinah itu memang terkenal dengan keberadaan pesantren dan kegiatan keagamaannya.
Suasananya juga mirip-mirip di Madinah, Makkah sana. Banyak warung, pedagang makanan dan minuman yang buka di sepanjang jalan tersebut menjelang magrib.
"Saya sudah 10 tahun berjualan takjil di sini (Jalan Madinah) selama puasa. Suasananya selalu ramai,’’ ungkap Maya Saroh, pedagang yang menjual aneka lauk dan sayur itu, Sabtu (16/3).
Dia mengungkapkan, mereka yang berdagang di sini tidak semua warga Temboro. Malah, banyak dari luar desa.
"Biasanya mulai ramai sekitar pukul 16.00 hingga menjelang magrib,’’ ujar warga Temboro tersebut.
Nah, yang menjadikan “Kampung Madinah” Temboro mirip dengan di Arab Saudi sana adalah terdapatnya pedagang nasi kebuli.
Makanan khas Timur Tengah itu paling banyak yang diburu warga. Selain murah, rasanya juga gurih.
"Sebenarnya tidak hanya pas Ramadan saja ramainya, tapi di bulan-bulan lain juga ramai. Karena nasi kebuli sangat diminati santri-santri di sini (Ponpes Al-Fatah Temboro),’’ terang Siti, penjual nasi kebuli di Jalan Madinah. (ril/her)
Editor : Budhi Prasetya