MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Selalu ada hikmah di balik setiap kesulitan. itu juga berlaku saat kekeringan melanda sejumlah wilayah Magetan.
Musim kemarau tahun ini membuat debit air di Embung Joketro, Parang, Magetan susut drastis. Bahkan boleh dikatakan saat ini terkuras habis.
Kondisi itu berdampak terhadap suplai air ke lahan pertanian di sekitarnya. Maklum, para petani mengandalkan air di Embung Joketro untuk pasokan irigasi sawah mereka.
Di tengah situasi sulit ini, warga memilih untuk beralih pekerjaan untuk sementara waktu. Dari bertani menjadi penambang dadakan.
Ya, sjumlah warga memanfaatkan mengeringnya embung tersebut untuk mengais rezeki. Mereka mengumpulkan pasir dan batu dari dasar embung.
Seperti yang dilakukan oleh Munasirin, saah seorang warga Desa Joketro. Ibu lima orang anak itu berburu rupiah dari embung yang ada di desanya tersebut.
"Alhamdulillah, di musim kemarau ini mencari pasir menjadi berkah untuk menyambung hidup. Yang penting hasilnya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan anak sekolah,’’ ujarnya, Kamis (15/8).
Munasirin dan para ibu-ibu lain melakukan aktivitas ini karena pada masa tanam ketiga, jarang ada yang pergi ke sawah.
Mereka bingung harus menanam apa karena minimnya pasokan air. Alhasil, para emak-emak mengumpulkan pasir dan batu.
Hebatnya, mereka bisa mengumpulkan sekitar lima gerobak pasir setiap hari, dari pagi hingga siang.
"Kami kumpulkan setiap hari, nanti pasti ada pembeli yang datang dengan truk atau dump truck, jadi pasti laku,’’ kata Munasirin.
Sementara itu, Minah, seorang ibu yang juga mencari pasir, menjelaskan bahwa uang yang dihasilkan dari menjual pasir dan batu cukup untuk membeli lauk dan beras.
Untuk ukuran satu bak pikap, pasir yang dikumpulkan warga dihargai Rp 200 ribu. Sedangkan untuk ukuran satu bak dump truck (setara tiga bak pikap), harganya Rp 550 ribu. (ril/naz)
Editor : Budhi Prasetya