MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Selama ini,Telaga Sarangan dikenal sebagai tempat wisata yang menawarkan keindahan panorama alam.
Pun, kesejukan objek wisata andalan warga Magetan itu menjadi daya tarik utama wisatawan yang berkunjung.
Namun, sebenarnya Telaga sejarah juga memiliki segudang cerita bersejarah bagi bangsa Indonesia.
Kepala Disbudpar Magetan Joko Trihono menjelaskan, Sarangan dulunya merupakan daerah tempat berdirinya sekolah TNI Angkatan Laut (AL) pertama.
"Di masa lalu, Sarangan pernah menjadi lokasi latihan melawan Belanda yang dikenal dengan nama Special Operation," ujarnya.
"Sekolah ini juga mencetak perwira-perwira penting TNI AL, termasuk yang menjadi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL),” ungkap Joko, Jumat (30/8) lalu.
Pada masa itu, para siswa Angkatan Laut terpilih dibawa ke Sarang Garuda Kompleks di Sarangan, sebuah kawasan sejuk di Plaosan.
Letnan Kolonel Raden Bagus Nacis Djajadiningrat adalah orang yang menyiapkan tempat pendidikan itu.
Berdasarkan arsip Kementerian Pertahanan Nomor 275, pelatih Special Operation antara lain adalah Mochtar, Iskak, Bambang Sutedjo, Martadinata, dan Djajadiningrat.
Julius Pour, yang merupakan bagian dari Special Operation, membentuk perwira yang mampu mengendalikan speed boat untuk menembus blokade Belanda.
Fakta-fakta sejarah itu diungkapkan Zamzulis Ismail dan Burhanuddin Sanna dalam buku Siapa Laksamana R.E. Martadinata.
Laksamana Raden Eddy (R.E) Martadinata kemudian menjabat sebagai Kepala Sekolah Special Operation.
Beberapa muridnya yakni Yos Sudarso, Laksamana Pertama Urip Subyanto, dan Laksamana Pertama Fritz Suak.
"Berdasarkan sejarah tersebut, kami berupaya menjalin komunikasi dengan TNI AL. Salah satu hasil dari komunikasi ini adalah Magetan mendapatkan hibah dua pesawat Nomad yang akan dipajang di Telaga Wahyu,” paparnya. (ril/naz)
Editor : Budhi Prasetya