MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Suhu di Magetan sempat mencapai 36 derajat Celsius pekan lalu.
Namun, beberapa waktu terakhir hujan mulai membasahi berbagai wilayah di Magetan. Tak sedikit warga yang mengira musim hujan segera datang.
Namun tidak demikian dengan pernyataan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Mereka menyebut bahwa hujan yang turun saat ini belum bisa dikatakan sebagai pertanda masuknya musim penghujan.
Menurut prakiraan BMKG, hujan hanya akan turun di sebagian wilayah Magetan pada rentang waktu dari hari, mulai Minggu (8/9) hingga Selasa (10/9).
Hal itu diungkap oleh Kepala Kelompok Operasi (Kapoksi) Stasiun Geofisika III BMKG Nganjuk Tekad Sumardi.
"Hujan yang turun ini hanya sekitar tiga hari dengan intensitas ringan dan di beberapa wilayah saja. Tidak menandakan bahwa kita memasuki musim penghujan,” ujarnya, Selasa (10/9).
Tekad menjelaskan, hujan saat ini disebabkan oleh gangguan atmosfer, seperti fenomena aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Rossby Equatorial.
Fenomena tersebut menyebabkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan.
"Karena adanya Gelombang Kelvin dan Rossby Equatorial, hujan akhir-akhir ini turun di sebagian wilayah Magetan, yang biasanya disebut hujan lokal,” ungkapnya.
Alasan lain mengapa hujan ini tidak menandakan masuknya musim penghujan adalah karena menurut perkiraan cuaca BMKG, musim kemarau masih akan berlanjut hingga bulan Oktober.
Dengan demikian, musim penghujan diperkirakan baru akan dimulai pada akhir bulan Oktober.
"Masyarakat perlu waspada terhadap kemungkinan angin kencang sebelum hujan turun,” pungkasnya. (ril/naz)
Bukan Awal Musim Hujan
- BMKG menyebut bahwa hujan di Magetan hanya terjadi dalam tiga hari terakhir.
- Setelah itu cuaca akan kembali panas.
- Sebab, musim kemarau masih akan berlangsung hingga Oktober.
- Awal musim hujan diperkirakan baru akan tiba pada akhir Oktober.
(Sumber: diolah dari wawancara)
Editor : Budhi Prasetya