MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Temuan kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) yang merebak di Magetan menarik perhatian Kementerian Pertanian (Kementan).
Bahkan, tim dari Kementan turun langsung ke lapangan. Mereka mengambil sampel darah sejumlah sapi suspek PMK di Desa Kedungguwo, Kecamatan Sukomoro, Magetan, pada Selasa (31/12) lalu.
Selain itu, juga memberikan edukasi terkait pencegahan penyakit mulut dan kuku kepada para peternak sapi di desa tersebut.
Hal itu dibenarkan oleh Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementan drh. Makmun.
"Sampel itu nanti akan diuji. Setelah hasilnya keluar nanti akan dilakukan penanganan atau pengobatan lanjutan,’’ ucapnya.
Selama melakukan monitoring di Magetan, pihaknya juga menyerahkan beberapa obat-obatan, vitamin dan disinfektan kepada peternak.
Dia meminta peternak untuk tetap tenang dan tak perlu cemas berlebihan dalam menyikapi temuan kasus PMK belakangan ini.
"Peternak jangan panik. Kalau ada sapi yang sakit, bisa langsung diobati. Karena memang semua daerah belum bebas dari PMK,’’ terangnya.
Dia juga mengimbau kepada peternak untuk tidak menjual sapinya yang sakit. Karena berpotensi menyebarkan penyakit ke hewan ternak lainnya.
"Semisal ada sapi yang sakit, sebaiknya dilaporkan ke dinas untuk segera diisolasi dan ditangani,’’ ungkap Makmum.
Terpisah, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Magetan drh. Nur Haryani membeberkan sepanjang 2024 tercatat ada 781 ekor hewan ternak yang terjangkit PMK.
Sebanyak 33 ekor sapi di antaranya mati dan 23 ekor lainnya dilakukan potong paksa.
"Kembali merebaknya kasus PMK ini menjadi pukulan luar biasa bagi peternak,’’ ujarnya.
Terlebih lagi, menurutnya, Magetan selama ini sudah menjadi daerah produsen daging nasional. Tentunya, dia berharap ada bantuan dari Kementan untuk penanganan PMK saat ini.
’’Kami sudah memberikan edukasi dan sosialisasi tentang pencegahan serta penanganan PMK ini ke semua kecamatan maupun desa,’’ kata Nur. (ril/her)
Editor : Budhi Prasetya