Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Dokter Hewan Disnakkan Magetan Ungkapkan Penyebab Persebaran PMK di Magetan yang Sulit Terdeteksi 

Aprilita Sari • Jumat, 3 Januari 2025 | 22:30 WIB
Sapto Agung Kurniawan, Dokter Hewan di Disnakkan Magetan, sebut persebaran Aphthovirus penyebab PMK dipernagruhi oleh kondisi cuaca.
Sapto Agung Kurniawan, Dokter Hewan di Disnakkan Magetan, sebut persebaran Aphthovirus penyebab PMK dipernagruhi oleh kondisi cuaca.

MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Magetan harus lebih keras memutar otak belakangan ini.

Itu terkait dengan kembali merebaknya penyakit mulut dan kuku atau PMK yang menerang hewan ternak warga Magetan.

Diketahui, sejumlah sapi hewan ternak warga diduga terinfeksi PMK. Ironisnya, sebagian di antaranya memilih menjualnya untuk menghindari kerugian.

Seperti yang dilakukan oleh Isnan. Warga Desa Kedungguwo, Kecamatan Sukomoro, Magetan itu terpkasa menjual anak sapi miliknya.

"Pekan lalu, anak sapi yang suspek PMK terpaksa saya jual. Soalnya, kalau mati justru rugi,’’ ujarnya, Kamis (2/1).

Dirinya menyebut jika setidaknya sekitar 19 ekor sapi yang mati diduga gegara PMK dalam sebulan terakhir.

Isnan mengungkapkan bahwa puluhan ekor sapi lainnya yang memiliki gejala terinfeksi Aphthovirus sudah dijual.

"Harga jualnya otomatis anjlok. Karena yang terkena PMK itu dihargai Rp 5 juta. Padahal, jika sapinya dalam kondisi sehat harga jualnya bisa mencapai Rp 25–60 juta per ekor,’’ bebernya.

Disisi lain, Disnakkan Magetan terus melakukan identifikasi berikut penanganan terhadap sebagian sapi yang terpapar PMK. Seperti pemberian vitamin dan pengobatan.

Sapto Agung Kurniawan, dokter hewan disnakkan setempat, mengatakan jika penyebab merebaknya PMK tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Di antaranya, infeksi Aphthovirus pada hewan ternak dari luar daerah. Kondisi itu yang selama ini dianggapnya sulit terdeteksi.

Bagi warga yang hewan ternaknya terinfeksi PMK, dirinya menyarankan untuk memberikan treatment khusus selain menjaga kebersihan kandang.

Pun, Sapto tak lupa mengingatkan kepada para peternak untuk melakukan isolasi. Seperti memisahkan kandang sapi yang sakit dengan hewan ternak lainnya. 

’’Kondisi kandang harus kering dan perlu diberikan vitamin berikut air putih,’’ tuturnya, Kamis (2/1).

Selain itu, Agus menduga penyebaran kasus PMK di Magetan juga dipicu karena faktor cuaca.

’’Kondisi cuaca seperti ini membuat virus mudah berkembang dan menyebar melalui udara maupun air,’’ imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, merebaknya PMK di Magetan turut mengundang perhatian  Kementerian Pertanian (Kementan).

Tim dari Kementan yang turun langsung ke lapangan mengambil sampel darah sejumlah sapi suspek PMK di Desa Kedungguwo, Kecamatan Sukomoro, pada Selasa (31/12) lalu.

Selain itu, juga memberikan edukasi terkait pencegahan penyakit mulut dan kuku kepada para peternak sapi di desa tersebut.

Hal itu dibenarkan oleh Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementan drh. Makmun.

"Sampel itu nanti akan diuji. Setelah hasilnya keluar nanti akan dilakukan penanganan atau pengobatan lanjutan,’’ ucapnya. (ril/her)

Editor : Budhi Prasetya
#sapi #magetan #penyakit mulut dan kuku #pmk #virus