MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun - Gunung Lawu yang dikenal dengan aura mistis dan sakralnya, kini ramai diperbincangkan di media sosial.
Banyak warganet berpendapat bahwa gunung yang berada di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah ini telah kehilangan kesan angkernya akibat membludaknya pendaki selama libur panjang.
Keramaian ini terlihat di jalur pendakian via Cemorosewu, tepatnya di Basecamp Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan.
Sebuah video berdurasi 12 detik yang diunggah akun TikTok @khusainalbanna memperlihatkan antrean panjang pendaki di base camp pada dini hari.
Video dengan caption “Iki basecamp opo pasar?” itu mendapatkan respons luas.
Hingga kemarin (29/1) mendapat 7.664 like, 301 komentar, dan dibagikan ulang 2.084 kali.
Pengelola pendakian via Cemorosewu dari Perhutani, Asper BKPH Lawu Selatan Haji Santoso, membenarkan lonjakan jumlah pendaki selama libur panjang ini.
‘’Pada Minggu, jumlah pendaki mencapai 947 orang, baik yang melakukan tektok (naik-turun sehari) maupun camping. Sedangkan dalam tiga hari terakhir, jumlahnya lebih dari 1.200 pendaki. Cuaca juga cukup kondusif,’’ jelasnya.
Gunung Lawu, dengan ketinggian 3.265 mdpl, selama ini dikenal sebagai gunung dengan panorama alam yang eksotis sekaligus memiliki nuansa mistis yang kuat.
Namun, ramainya pendaki belakangan ini menimbulkan perdebatan di kalangan warganet: apakah Gunung Lawu masih memiliki kesan horor seperti dahulu? (ril/naz)
Ragam Komentar Warganet
@tofffantasy “lawu kehilangan ke mistisan nya”, disukai 793 akun
@putrisalsa202 “Lawu kehilangan harga dirine”, disukai 3 akun
@khfzhabyn demite “minder saking akehe”, disukai 379 akun
@astroboyy304 “jian ilang tenan harga diri horor lawu”, disukai 85 akun
@sobatmdpl_ “klo gini gak serem dan mistis, apalagi tersesat”
@an0thrnn “nak ngeneki horor e dadi ilang”
@dafauye0 “lawu hilang harga dirinya”
@nnmy06 “kyok study tour mas gk mistis blas”
@it.sfullsun “mistis e lawu ws g enek harga dirine”
Editor : Mizan Ahsani