MAGETAN, Jawa Pos Radar Madiun – Ribuan warga dan wisatawan memadati Telaga Sarangan untuk menyaksikan tradisi Labuhan Sarangan.
Upacara yang sudah turun temurun digelar warga itu ditandai dengan Larung Tumpeng, Jumat (31/1).
Sutowo Harjo Sumarto, sesepuh adat Kelurahan Sarangan, menyebut tradisi ini telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.
‘’Ini ungkapan syukur atas berkah dari Tuhan, sekaligus penghormatan kepada Kiai Pasir dan Nyai Pasir, penjaga Telaga Sarangan,’’ ujarnya.
Tradisi dimulai dengan kirab Tumpeng Gono Bahu (nasi putih) dan Tumpeng Hasil Bumi.
Kedua tumpeng diarak sejauh satu kilometer dari Kantor Kelurahan Sarangan ke Punden Telaga Pasir, diiringi tarian, kuda, dan reog.
Setibanya di telaga, tumpeng dibawa menggunakan speedboat, dikirab mengelilingi danau, lalu dilarung di tengah telaga.
Warga berdoa bersama sebelum sebagian makanan sesaji dibuang ke air.
Sementara sisanya dimakan bersama.
‘’Makanan yang dibawa warga beragam, seperti nasi, lauk pauk, ayam panggang, dan hasil bumi,’’ terang Mbah Wo -sapaan Sutowo Harjo Sumarto.
Salah satu wisatawan, Thalia Putri, mengaku senang bisa menyaksikan langsung tradisi ini.
‘’Seru banget. Selain larung sesaji, ada kirab budaya dan atraksi ski air. Saya juga ikut menikmati hidangan bersama warga,’’ katanya. (ril/naz)
Editor : Mizan Ahsani