Jawa Pos Radar Magetan – Kabupaten Magetan tengah menghadapi darurat sampah.
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di daerah tersebut sudah melebihi kapasitas, menjadi bukti nyata bahwa krisis lingkungan bukan lagi ancaman masa depan, tapi kenyataan hari ini.
Seruan ini disampaikan langsung oleh Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti dalam pembukaan Festival Bambu Kedua, Senin (30/6), bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia 2025.
Festival yang digelar di halaman GOR Ki Mageti ini mengusung tema global “Hentikan Polusi Plastik”, sejalan dengan fokus PBB dalam mengurangi dampak limbah plastik terhadap bumi.
Dalam sambutannya, Bupati Nanik mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi tiga krisis lingkungan besar.
Antara lain, perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi plastik, yang saling terkait dan saling memperparah.
“Ini bukan ancaman masa depan, tapi krisis nyata yang sedang terjadi,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa perilaku konsumtif masyarakat terhadap plastik sekali pakai harus segera dihentikan.
Untuk itu, pemerintah menghidupkan kembali komitmen terhadap Instruksi Bupati Nomor 1 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat.
Salah satunya, dengan meminta seluruh camat, lurah, dan kepala desa di Magetan menyelesaikan sampah dari sumbernya.
“Ini bukan sekadar kewajiban administratif, tapi tanggung jawab moral kita semua,” imbuhnya.
Festival Bambu 2025 digelar sebagai ajang edukasi masyarakat, bukan hanya sekadar perayaan.
Lewat kolaborasi antara pemerintah, komunitas penggiat lingkungan, dan pelaku UMKM, kegiatan ini diharapkan menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga bumi, sekaligus mendorong partisipasi ekonomi melalui sektor hijau.
Pemkab Magetan juga memperkenalkan Eco Bamboo Park sebagai salah satu model ruang terbuka hijau yang tidak hanya estetis, tapi juga edukatif dan ramah lingkungan.
Pengembangan taman ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang menghadapi krisis ekologis lokal.
“Pembangunan ekonomi tidak boleh merusak lingkungan. Harus ada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan kelestarian ekologi,” tandas Bupati Nanik. (ril/her)
Editor : Hengky Ristanto