Jawa Pos Radar Madiun - Dari panggung wayang hingga ruang komposisi musik, Ki Putut Puji Agusseno membuktikan dirinya sebagai seniman serba bisa asal Magetan.
Dikenal sebagai dalang muda berbakat, ia menguasai seni pedalangan, karawitan, hingga penciptaan iringan tari.
Sejak awal kariernya, Ki Putut bukan hanya fokus mengasah teknik memainkan wayang.
Ia juga membimbing dalang-dalang muda, menanamkan pentingnya memberi “jiwa” pada setiap tokoh yang dimainkan.
“Dalang harus bisa membuat hidup sebuah pementasan, karena wayang adalah wewayangane wong urip,” ujarnya.
Bagi Ki Putut, semua tokoh wayang harus tampil layaknya manusia. Dalang memiliki peran mengatur jalannya cerita sekaligus menjadi teladan.
“Diharapkan seorang dalang harus berperilaku baik, dewasa, dan bijak dalam menghadapi masalah,” tambahnya.
Ki Putut dikenal merangkul semua seniman, mulai dari wayang, karawitan, campursari, ludruk, hingga ketoprak.
“Semua seniman memikul beban berat di pundaknya, maka seniman harus bersatu demi mewujudkan kebahagiaan masyarakat serta melestarikan seni budaya,” tegasnya.
Selain menjadi dalang, Ki Putut adalah PPPK di Dinas Kebudayaan. Sejak 2017, ia kerap mengisi acara resmi di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional.
Sebagai komposer, ia menciptakan iringan tari, lagu, hingga musik pengiring wayang dengan sentuhan inovasi di setiap karyanya.
Namun, proses kreatif ini tidak selalu mudah.
“Melestarikan kesenian ini adalah tugas kita para seniman, kita harus selalu berkembang dan tidak boleh begitu-begitu saja," ujarnya.
"Karena zaman terus berkembang, maka seni harus ikut maju. Kita tidak boleh mengeluh bila tidak ditanggap. Yang kita harus lakukan adalah terus berinovasi,” sambung Ki Putut.
Sebagai seniman yang bekerja di lingkungan kedinasan, ia sering harus membuat karya baru sesuai jadwal acara, bukan hanya saat inspirasi datang.
Tanggung jawab ini berat, tetapi justru melatih kreativitasnya.
Karya yang diapresiasi menjadi referensi untuk masa depan, sementara komentar negatif dijadikannya motivasi untuk terus berkembang.
Dengan prinsip itu, Ki Putut membuktikan bahwa seniman sejati adalah mereka yang mampu bertahan, berinovasi, dan memberi makna di setiap karya. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani