Jawa Pos Radar Madiun - Rangkaian Festival Gumelaring Kadipaten Purwodadi resmi berakhir pada Minggu (31/8) malam.
Selama tiga hari, sejak 29 hingga 31 Agustus 2025, desa yang masih menyimpan jejak kadipaten peninggalan trah Diponegoro itu menjadi pusat perayaan budaya, spiritualitas, dan hiburan.
Agenda rutin yang telah berjalan sejak kepemimpinan Suci Minarni, Kepala Desa Purwodadi, ini kembali mendapat sambutan hangat warganya.
Tak hanya masyarakat desa, festival juga dihadiri tokoh budaya, seniman-seniwati Magetan, perwakilan Disbudpar, hingga delegasi Pemprov Jawa Timur.
“Semua lapisan masyarakat bisa menikmati. Anak-anak disuguhkan jaranan dan reog, orang tua mendapat hiburan ketoprak dan wayang, bapak-ibu diberi siraman rohani lewat pengajian KH Ahmad Zani. Bahkan sekolah-sekolah ikut tampil dengan senam pagi dan drumband SDN Purwodadi,” terang Suci.
Sebelum puncak acara wayang kulit, masyarakat mengikuti kirab laku bisu. Tradisi sakral ini melibatkan perangkat desa, tokoh masyarakat, hingga perguruan silat.
Mereka berjalan tanpa suara, mengingatkan pentingnya menjaga ucapan.
Maknanya jelas, ucapan bisa lebih tajam daripada pedang. Dengan laku bisu, manusia diajarkan menahan lisan, menghindari fitnah, dan menumbuhkan kesadaran bahwa “mulutmu adalah harimaumu.”
Wayang Kulit Lakon Bangun Taman Maerakaca
Puncak malam ditutup dengan pagelaran wayang kulit oleh Ki Putut Puji Agusseno, M.Sn, alumnus ISI Surakarta sekaligus putra mantu kades.
Dalang muda ini dikenal piawai membawakan lakon dengan nuansa aktual.
Kali ini ia memilih lakon “Bangun Taman Maerakaca.” Kisah ini diangkat dari konteks kekinian, terinspirasi fenomena demo besar-besaran di sejumlah daerah yang berujung anarkis dan penjarahan.
Dalam cerita, taman Maerakaca dibakar karena sakit hati dan kekecewaan. Srikandi lalu mengadakan sayembara.
Siapa yang mampu membangun kembali taman itu dengan kejernihan hati akan menjadi suaminya. Arjuna, dibantu gurunya Resi Durna, berhasil mewujudkan taman melalui meditasi dan jalan pikiran sehat.
Pesan moralnya jelas, bentrokan dan anarkisme bukan solusi. Hanya hati bersih, akal sehat, dan diskusi yang akan membawa kedamaian.
Bagi warga Purwodadi, festival ini lebih dari sekadar hiburan. Ia menjadi ruang syukur, perekat persaudaraan, sekaligus pengingat sejarah bahwa desa mereka adalah warisan besar dari trah Diponegoro.
“Di tengah hiruk pikuk situasi bangsa, kami ingin masyarakat tetap aman, bahagia, dan bangga dengan budaya sendiri,” tegas Suci. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani