Jawa Pos Radar Magetan – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali menyerang sapi di Desa Bogoarum, Plaosan.
Tiga ekor sapi milik warga mati akibat terinfeksi Aphthovirus.
Kepala Desa Bogoarum Suyanto menyebut kasus pertama diketahui setelah ada laporan kematian sapi beruntun.
“Sudah kami laporkan ke disnakkan,” ujarnya, kemarin (14/9).
Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Magetan dijadwalkan turun ke balai desa hari ini (15/9).
Kegiatan meliputi sosialisasi, pembagian vitamin, dan obat cacing.
Suyanto mengakui vaksinasi PMK belum sepenuhnya diterima peternak.
“Memang ada yang mau, tetapi ada juga yang menolak. Alasannya, setelah divaksin sapi biasanya panas dan tidak mau makan selama satu sampai tiga hari,” terangnya.
Dari laporan RT, populasi sapi di Bogoarum sekitar 450 ekor.
Sebagian sakit, ada yang diobati secara tradisional, sisanya ditangani dokter hewan.
“Ada juga sebagian peternak yang terpaksa menjual sapi mereka dengan harga di bawah standar,” ujarnya.
Mayoritas peternak di Bogoarum adalah penggemukan sapi.
Mereka menjual ternaknya setahun sekali.
“Saat PMK awal dulu, semua sapi sudah divaksin. Tapi ketika dijual lalu dibelikan lagi, peternak tidak tahu apakah sapi pengganti sudah divaksin atau belum,” pungkasnya. (ril/her)
Editor : Hengky Ristanto