Jawa Pos Radar Madiun - Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) serta lumpy skin disease (LSD) kembali menghantui para peternak di Bogoarum, Plaosan.
Puluhan sapi dilaporkan sakit, bahkan ada yang mati atau terpaksa dijual murah akibat kondisi yang memburuk.
Dedi Prima Ardani, salah satu peternak, mengaku berjuang keras merawat dua ekor sapi miliknya yang terserang PMK sejak sebulan lalu.
‘’Ada yang mulai sembuh, lainnya sakit parah. Susah berdiri dan kukunya hampir lepas,” ujarnya, Sabtu (13/9).
Berbagai upaya dilakukan Dedi demi menyelamatkan ternaknya.
Ia meracik obat mandiri dari campuran alkohol dan sitrun untuk menyemprot luka, serta memberi obat pengering.
Selain itu, ia juga meminta bantuan dokter hewan.
‘’Untuk dua sapi ini sudah habis biaya Rp 700 ribu dalam sebulan,” ungkapnya.
Namun, risiko kerugian tetap mengintai. Dedi pernah membeli sapi Rp 20 juta, tetapi setelah dua bulan terserang PMK, ia hanya bisa menjualnya Rp 10 juta.
‘’Kalau tidak dijual, malah mati. Modal separuh hilang,” keluhnya.
Nasib serupa dialami peternak lain di Bogoarum.
Ada warga yang membeli sapi Rp 22 juta, namun tiga hari setelah terserang PMK terpaksa menjualnya Rp12 juta. ‘’Rugi Rp 10 juta seketika,” tutur Dedi.
Kondisi ini membuat sebagian peternak memilih menjual sapinya lebih awal meski sehat, karena takut nilainya anjlok saat terjangkit penyakit.
‘’Kalau sapi sudah roboh, harganya turun separuh. Itu yang ditakutkan warga,” tambahnya. (ril/naz)
Editor : Mizan Ahsani