Jawa Pos Radar Magetan – Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan turun tangan menyelidiki dugaan kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami sejumlah siswa SDN 2 Kediren dan MI Nurul Dholam.
Pascakejadian Jumat (17/10) lalu, petugas langsung mengambil sampel sisa makanan untuk diuji di BBLKM Surabaya.
Kepala Dinkes Magetan dr. Rohmat Hidayat membenarkan laporan tersebut.
’’Kami mendapat informasi ada 12 siswa yang mengeluhkan mual, pusing, dan sakit perut setelah menyantap menu MBG,’’ ujarnya, Minggu (19/10).
Pihaknya segera menindaklanjuti laporan itu dengan pemeriksaan ke Puskesmas Lembeyan, tempat para siswa dirawat.
Hasilnya, kondisi mereka tergolong ringan dan stabil.
’’Alhamdulillah semuanya membaik. Hanya diberi obat dan diarahkan rawat jalan,’’ jelasnya.
Meski begitu, Dinkes tetap meminta pemantauan lanjutan.
’’Gejala bisa berubah. Kami minta puskesmas terus memonitor kondisi anak-anak,’’ imbuhnya.
Menu MBG yang disajikan hari itu terdiri dari nasi goreng, telur ceplok, susu, buah melon, dan kacang kulit.
Namun, Rohmat belum bisa memastikan apakah menu tersebut menjadi penyebab keluhan.
’’Kami belum bisa pastikan. Tapi tim surveilans sudah melakukan investigasi epidemiologi,’’ terangnya.
Langkah pengambilan sampel dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya kontaminasi bakteri atau zat berbahaya.
’’Hasil lab nanti yang akan menentukan. Bisa saja anak-anak sebelumnya juga makan dari luar program MBG,’’ papar Rohmat.
Terkait keberlanjutan program MBG di sekolah tersebut, dia menegaskan bukan ranah Dinkes.
’’Kami fokus pada penanganan kesehatan anak-anak. Soal program, itu kewenangan instansi lain,’’ pungkasnya.
Editor : Hengky Ristanto