Jawa Pos Radar Magetan – Di tangan Anggi Putra Harsa, batik Magetan menemukan makna baru: muda, personal, dan berkarakter.
Desainer berusia 28 tahun itu tak sekadar menorehkan motif di atas kain, melainkan menghidupkan kisah dan semangat untuk kembali ke akar budaya.
Sebelum dikenal sebagai Ketua Paguyuban Batik Magetan, Anggi adalah desainer muda di Jakarta.
Hidupnya penuh rutinitas dan tenggat kerja. Namun, pada 2022, hidupnya berubah drastis.
Ia pulang ke Magetan untuk merawat sang ibu yang sakit. Enam bulan kemudian, sang ibu berpulang.
“Setelah itu saya tidak punya kesibukan lain, akhirnya saya belajar membatik,” kenangnya.
Dari situ, lahirlah JERO, brand batik yang mengekspresikan perjalanan personalnya.
Baginya, setiap batik harus bisa berbicara tentang kepribadian pemakainya.
“Setiap orang itu unik, jadi batik harus bisa bercerita tentang siapa pemakainya,” tutur Anggi.
Nama JERO punya filosofi mendalam. Dalam bahasa Jawa berarti “dalam”, sedangkan dalam bahasa Lombok bermakna “bangsawan”.
Dua makna itu, menurutnya, menggambarkan jati dirinya: sederhana namun berisi.
Brand JERO tampil di panggung Jakarta Fashion Week (JFW) dan Indonesia Fashion Young Competition JFW 2024.
Di sana, Anggi memamerkan karya berbahan sisa produksi seperti malam, cat, dan kain yang diolah ulang menjadi busana eksklusif.
Sebagai Ketua Paguyuban Batik Magetan, ia kini berupaya menyalakan kembali semangat para perajin lokal.
Ia yakin batik bukan hanya warisan budaya, tapi juga peluang ekonomi.
“Kalau banyak orang bisa memaknai batik, saya yakin akan banyak tenaga kerja terserap,” pungkasnya. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto