Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Teringat Sosok Ki Anom Suroto, Tangis Ki Bayu Aji Pecah saat Buka Wayang Kulit Peringatan Hari Jadi Magetan

Ki Damar • Sabtu, 25 Oktober 2025 | 21:23 WIB
Ki Bayu Aji, putra Ki Anom Suroto, menangis saat membuka pagelaran wayang kulit dalam rangka Hari Jadi Magetan.
Ki Bayu Aji, putra Ki Anom Suroto, menangis saat membuka pagelaran wayang kulit dalam rangka Hari Jadi Magetan.

Jawa Pos Radar Madiun – Pagelaran wayang kulit pada puncak peringatan Hari Jadi ke-350 Kabupaten Magetan, Jumat (24/10), terasa berbeda.

Di tengah gegap gempita panggung hiburan dan kemeriahan masyarakat, terselip duka mendalam atas berpulangnya maestro dalang legendaris Ki Anom Suroto, Kamis Pon (23/10), pukul 07.00 WIB.

Almarhum meninggal dunia di RS Dr Oen Surakarta setelah sempat dirawat intensif.

Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam bagi masyarakat Magetan, daerah yang menjadi salah satu panggung kesayangannya selama puluhan tahun berkesenian.

Ki Anom bukan hanya dikenal karena kiprah dan kelihaiannya mendalang, tetapi juga karena kerendahan hati dan kehangatan pribadinya.

Semasa hidup, ia kerap mengisi pagelaran Hari Jadi Magetan bersama sang putra, Ki Bayu Aji, yang kini meneruskan warisan seni ayahnya.

Namun tahun ini, panggung wayang di Alun-Alun Magetan terasa hening meski penonton berjubel.

Sebab, untuk pertama kalinya Ki Bayu Aji tampil seorang diri, tanpa sang ayah di sisi.

Tangis Pecah di Awal Pertunjukan

Pagelaran dimulai selepas penyerahan kayon atau gunungan, simbol dimulainya lakon.

Sebelum prosesi berlangsung, Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti menyampaikan bela sungkawa atas wafatnya Ki Anom Suroto.

“Semoga keluarga diberi kekuatan, keikhlasan, dan kesehatan untuk melanjutkan perjuangan almarhum,” ucapnya disambut doa bersama dan lantunan Al-Fatihah dari ratusan penonton yang memadati pendopo.

Ki Bayu Aji, dengan senyum yang menahan duka, berterima kasih atas doa dan perhatian masyarakat.

“Atas nama keluarga, kami mohon maaf jika semasa hidup bapak ada kesalahan,” katanya lirih.

Namun saat gending Ayak Manyura dimainkan (lagu yang kerap dibawakan almarhum di penghujung malam pertunjukan) suasana berubah haru.

Ki Bayu menunduk, air mata jatuh membasahi panggung.

Para sinden dan pengrawit yang sebagian besar adalah anggota tetap kelompok Ki Anom Suroto ikut terisak.

Penonton pun larut dalam keheningan, menyadari betapa dalam cinta seorang anak kepada ayahnya, seorang murid kepada gurunya.

Ki Bayu Aji melanjutkan pertunjukan hingga tuntas, menjadikannya bukan sekadar hiburan, tetapi juga sebuah persembahan terakhir untuk sang maestro.

Kini, meski Ki Anom Suroto telah tiada, masyarakat Magetan percaya bahwa semangatnya akan tetap menyala di setiap sabetan wayang, di setiap gending, dan di hati para pengagum seni pedalangan. (*/naz)

*Penulis alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#dalang #KI BAYU AJI #Hari Jadi Magetan #Ki Anom Suroto #Ki Anom meninggal #wayang