Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Gratis Tiket Masuk selama Empat Jam, Labuhan Sarangan Sedot 10 Ribu Pengunjung

Aprilita Sari • Jumat, 16 Januari 2026 | 17:58 WIB

10 ribu wisatawan dan warga menyaksikan upacara adat Labuhan Sarangan, Jumat (16/1).
10 ribu wisatawan dan warga menyaksikan upacara adat Labuhan Sarangan, Jumat (16/1).

Jawa Pos Radar Madiun - Kawasan wisata Telaga Sarangan benar-benar menjadi lautan manusia, Jumat (16/1).

Tradisi adat Labuhan Sarangan tahun ini sukses besar, menyedot antusiasme luar biasa dari warga lokal maupun wisatawan luar daerah.

Tak tanggung-tanggung, estimasi pengunjung yang memadati prosesi adat di Jumat Pon ini mencapai angka fantastis: 10.000 orang!

Membludaknya pengunjung ini tak lepas dari kebijakan "hadiah" dari Pemkab Magetan.

Khusus hari ini, retribusi tiket masuk Telaga Sarangan digratiskan selama 4 jam penuh.

Baca Juga: Tumpeng Raksasa 1,5 Meter Dilarung ke Tengah Telaga Sarangan, Ribuan Warga Berebut Berkah Jumat Pon

Bebas Retribusi Pukul 07.00 - 11.00 WIB

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Magetan, Joko Trihono, membenarkan kebijakan tersebut.

Langkah ini diambil atas persetujuan Bupati Magetan merespons permintaan warga dan panitia adat.

"Sekitar pukul 07.00 sampai 11.00 memang diberikan keleluasaan untuk masuk Telaga Sarangan atau bebas retribusi," jelas Joko.

Kebijakan ini terbukti ampuh. Sejak pagi buta, wisatawan sudah berdesakan mencari spot terbaik untuk menyaksikan kirab tumpeng raksasa dan prosesi larung sesaji.

Baca Juga: Hasil Putri KW di India Open 2026: Keok Lagi dari An Se Young, Gagal ke Semifinal

PAD Tiket Hilang, Ekonomi Warga Menang

Meski Pemkab kehilangan potensi pendapatan retribusi selama 4 jam, Joko Trihono menegaskan hitung-hitungannya justru untung besar bagi ekonomi daerah (multiplier effect).

Menurutnya, kedatangan ribuan wisatawan luar kota memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih besar daripada sekadar harga tiket.

"Kalau bicara PAD, tidak hanya retribusi masuk. Dampak pariwisatanya juga besar, karena wisatawan menginap, berbelanja, dan menggunakan jasa di Magetan," tegasnya.

Hotel-hotel penuh, pedagang oleh-oleh laris manis, dan jasa kuda/speedboat panen rezeki.

Labuhan Sarangan kini bukan sekadar ritual bersih desa biasa. Tradisi ini telah naik kelas karena ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Joko berharap, ke depan event ini bisa masuk dalam Calendar of Event Nasional sehingga promosi bisa lebih gencar dan durasi festival bisa diperpanjang untuk memanjakan wisatawan. (ril/naz)

Editor : Mizan Ahsani
#magetan #wisata #ritual #Labuhan Sarangan #tradisi #upacara adat #telaga sarangan