Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Retribusi Diggratiskan, Labuhan Sarangan Sedot 10 Ribu Pengunjung

Aprilita Sari • Sabtu, 17 Januari 2026 | 09:10 WIB
KEMBUL BUJANA: Warga mengikuti tradisi makan bersama dalam rangkaian Labuhan Sarangan. Satu bekal dilarung ke telaga, satu lainnya dinikmati bersama di tepian Telaga Sarangan. AJI PUTRA/RADAR MAGETAN
KEMBUL BUJANA: Warga mengikuti tradisi makan bersama dalam rangkaian Labuhan Sarangan. Satu bekal dilarung ke telaga, satu lainnya dinikmati bersama di tepian Telaga Sarangan. AJI PUTRA/RADAR MAGETAN

Jawa Pos Radar Magetan – Telaga Sarangan benar-benar berubah menjadi lautan manusia, Jumat (16/1).

Tradisi adat Labuhan Sarangan tahun ini mencatat antusiasme luar biasa dari warga lokal hingga wisatawan luar daerah.

Estimasi pengunjung yang memadati prosesi adat Jumat Pon tersebut mencapai sekitar 10 ribu orang.

Ribuan orang memadati tepian telaga sejak pagi hari demi menyaksikan kirab tumpeng raksasa hingga prosesi larung sesaji.

Lonjakan pengunjung tak lepas dari kebijakan Pemerintah Kabupaten Magetan yang menggratiskan retribusi tiket masuk Telaga Sarangan selama empat jam, yakni pukul 07.00 hingga 11.00 WIB.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Magetan Joko Trihono membenarkan kebijakan tersebut.

Menurutnya, langkah itu diambil atas persetujuan Bupati Magetan sebagai respons atas permintaan warga dan panitia adat.

“Sekitar pukul 07.00 sampai 11.00 memang diberi keleluasaan untuk masuk Telaga Sarangan atau bebas retribusi,” jelas Joko.

Kebijakan itu terbukti efektif mendongkrak kunjungan.

Sejak pagi buta, wisatawan sudah berdesakan mencari titik terbaik untuk menyaksikan kirab tumpeng gono bahu, tumpeng hasil bumi, serta tradisi kembul bujana—makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Meski retribusi digratiskan sementara, Joko menegaskan dampak ekonomi yang dihasilkan jauh lebih besar.

“Kalau bicara PAD, tidak hanya dari retribusi masuk. Dampak pariwisatanya juga besar, karena wisatawan menginap, berbelanja, dan menggunakan jasa di Magetan,” tegasnya.

Labuhan Sarangan kini tak lagi sekadar ritual bersih desa.

Tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Kebudayaan RI, sekaligus menjadi magnet wisata unggulan Magetan.

Ke depan, Disbudpar Magetan berharap Labuhan Sarangan bisa masuk Calendar of Event Nasional, sehingga promosi lebih luas dan durasi festival dapat diperpanjang demi meningkatkan daya tarik wisata. (ril/naz)

Editor : Hengky Ristanto
#wisata magetan #tradisi adat Jawa Timur #magetan #event wisata Magetan #Labuhan Sarangan #kembul bujana #warisan budaya tak benda #telaga sarangan