Jawa Pos Radar Magetan – Kejadian longsor di kawasan Telaga Sarangan memicu kekhawatiran publik.
Namun, pakar mitigasi bencana memastikan kondisi jalur lingkar selatan telaga masih relatif aman untuk dilalui.
Dosen Pencemaran dan Mitigasi Bencana Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun, Wiyono, menjelaskan bahwa longsor talud sisi selatan yang terjadi Sabtu (17/1) lalu bukan disebabkan oleh rapuhnya tanah maupun batuan asli.
“Yang longsor itu pondasi talud dan tanah urukan di atasnya, bukan batuan aslinya,” ujarnya, kemarin (18/1).
Menurut Wiyono, lapisan batuan dasar di jalur lingkar selatan Telaga Sarangan justru tergolong kompak dan stabil.
Retakan pascalongsor kemungkinan besar hanya terjadi pada lapisan tanah urukan, bukan struktur geologi utama.
Karena itu, secara teknis jalan inspeksi telaga masih aman.
Dia juga menepis kekhawatiran soal ombak telaga.
Karakter gelombang di Telaga Sarangan, kata dia, tidak berbahaya seperti ombak laut dan hanya muncul saat cuaca ekstrem.
Meski demikian, Wiyono merekomendasikan langkah mitigasi darurat berupa pemasangan pagar pengaman di titik longsor.
Tujuannya mencegah wisatawan terjatuh ke area rawan.
“Potensi longsor susulan masih ada, namun diperkirakan sebatas runtuhan talud dan tanah urukan,” jelasnya.
Wiyono juga membedakan longsor sisi barat telaga yang terjadi Kamis (15/1) lalu dengan longsor sisi selatan.
Longsor di sisi barat berasal dari lereng berhutan, sedangkan di sisi selatan murni akibat tanah urukan jalan.
“Saya menilai rangkaian kejadian ini dipengaruhi perubahan iklim, dengan pola hujan singkat tetapi berintensitas tinggi,” terangnya.
Sementara itu, Pemkab Magetan tengah mengkaji pembangunan jalan alternatif agar kendaraan warga tidak lagi melintasi jalan keliling telaga.
Menanggapi wacana tersebut, Wiyono menilai pemisahan jalur wisata dan jalur warga merupakan langkah tepat.
“Kalau jalur wisata dan jalur penduduk bisa dipisahkan, kawasan Sarangan akan terlihat lebih rapi, bersih, dan aman,” pungkasnya. (ril/her)
Editor : Hengky Ristanto