MAGETAN – Wilayah Magetan diprediksi memasuki puncak musim hujan pada Januari hingga Februari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan seiring meningkatnya intensitas hujan yang kerap disertai angin kencang.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Tingkat Madya Stasiun Geofisika III BMKG Nganjuk, Setiyaris, mengatakan hingga akhir Januari potensi cuaca ekstrem di wilayah Jawa Timur, termasuk Magetan, masih tergolong tinggi.
Pemicu cuaca ekstrem tersebut antara lain aktifnya monsun Asia, konvergensi angin, gangguan Equatorial Rossby, serta potensi lintasan Madden Julian Oscillation (MJO) di wilayah Jawa Timur.
“Faktor suhu muka laut yang hangat dan kondisi atmosfer lokal yang labil mendukung pembentukan awan hujan. Potensi hujan sedang hingga lebat dapat disertai petir dan angin kencang,” ujarnya, kemarin (25/1).
Sejalan dengan itu, BMKG Juanda juga mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk periode 21–30 Januari 2026 di sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Kabupaten Magetan.
Dampak yang perlu diwaspadai meliputi banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang atau puting beliung, hingga hujan es.
BMKG mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah perbukitan dan lereng untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor.
Selain itu, pengguna jalan diminta berhati-hati terhadap kondisi jalan licin, pohon tumbang, serta jarak pandang yang berkurang saat hujan lebat.
Masyarakat juga disarankan rutin memantau informasi cuaca terkini melalui radar WOFI serta peringatan dini yang disampaikan BMKG melalui kanal resmi.
“Cuaca bisa berubah dengan cepat. Segera lakukan langkah antisipasi bila diperlukan,” pungkas Setiyaris. (ril/her)
Editor : Hengky Ristanto