Jawa Pos Radar Magetan – Suasana Ramadan mengubah Jalan Madinah, Desa Temboro, Kecamatan Karas, menjadi pusat keramaian setiap sore.
Kawasan yang dijuluki Madinah van Java itu menawarkan pengalaman ngabuburit berbeda dengan perpaduan budaya religius dan ragam kuliner khas.
Julukan tersebut muncul karena atmosfer kawasan yang kental nuansa Timur Tengah.
Santri Ponpes Al Fatah dan masyarakat berbaur dengan busana muslim tertutup seperti gamis, hijab, hingga cadar.
Aktivitas ibadah di masjid sekitar juga berlangsung hampir tanpa henti selama 24 jam.
Daya tarik utama pengunjung adalah beragam pilihan takjil.
Selain jajanan lokal seperti martabak mini, tahu bakso, dan ceker mercon, tersedia pula kuliner khas Timur Tengah dan Asia Selatan.
Di antaranya nasi biryani khas India–Pakistan serta nasi mandi dari Timur Tengah yang menjadi favorit santri maupun warga.
Harga yang relatif terjangkau membuat kawasan ini selalu dipadati pembeli menjelang magrib.
Muhammad Ma’ruf, pedagang martabak mini, mengaku dagangannya cepat habis karena tingginya jumlah pengunjung.
‘’Banyak warga dan santri berburu menu berbuka di sini,’’ ujarnya.
Selain aktivitas ekonomi, budaya berbagi juga tumbuh di kawasan tersebut.
Beberapa pedagang menerima titipan sedekah warga untuk dibagikan sebagai takjil gratis kepada pengunjung pada hari tertentu.
’’Meski hujan, aktivitas ekonomi dan ibadah tetap ramai,’’ kata Dila, salah satu pedagang. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto