Jawa Pos Radar Magetan - Wangi aroma santan dan gula kelapa menyeruak dari dapur Alrista Snack di Desa Candirejo, Magetan.
Menjelang Idul Fitri 1447 H, geliat produksi jajanan tradisional seperti jenang, wajik, dan jadah mengalami lonjakan drastis hingga 200 persen.
Sugiarto, perajin jenang kawakan yang akrab disapa Pak Gik, mengaku kewalahan memenuhi pesanan yang datang dari pemudik maupun warga lokal yang memiliki hajatan.
Baca Juga: Ban Bocor saat Perjalanan Mudik Lebaran, Ini 6 Langkah Mudah Gunakan Dongkrak Mobil
Rahasia Dapur: Teknik "Empat Kenceng" dan Tungku Kayu
Kualitas jenang Magetan yang legit dan tahan lama ternyata lahir dari proses yang sangat melelahkan. Pak Gik tetap mempertahankan cara tradisional untuk menjaga cita rasa.
-
Proses Panjang: Mulai dari perendaman ketan selama dua jam, pemerasan santan hingga berminyak, hingga pencairan gula yang disaring ketat.
-
Pengadukan Manual: Adonan dimasak di atas tungku bahan bakar kayu dengan api kecil. Pengadukan harus dilakukan terus-menerus selama berjam-jam hingga kalis sempurna.
-
Sentuhan Akhir: Setelah kalis, jenang dicetak dan ditaburi wijen sangrai yang gurih sebagai topping khas.
"Kuncinya ada di pengadukan. Harus sabar sampai benar-benar kalis di api kecil. Menjelang lebaran ini, kami yang biasanya hanya masak satu kenceng (wajan raksasa), sekarang naik jadi empat kenceng sehari," ungkap Pak Gik.
Baca Juga: Jadwal MPL ID S17 Lengkap, Dibuka BTR vs Alter Ego 27 Maret dan Duel Panas RRQ vs ONIC
Bahan Baku Tembus 80 Kilogram Per Hari
Lonjakan permintaan ini terlihat dari penggunaan bahan baku yang naik berkali-kali lipat:
-
Hari Biasa: 20 kg bahan per resep.
-
Akhir Pekan: 40 kg bahan.
-
Momen Lebaran: Tembus 80 kg per hari.
Pak Gik menyebut kendala utama saat ini bukanlah bahan baku, melainkan keterbatasan tenaga kerja.
Untuk menyiasatinya, para pekerja kini menggunakan sistem shift (bergantian) agar produksi tetap berjalan 24 jam selama musim mudik.
Baca Juga: Pasar Legi Ponorogo Sepi Jelang Lebaran, Pedagang Kue Alami Penurunan Omzet 50 Persen
Harga Tetap "Sami Mawon", Tidak Naik!
Meski permintaan menggila, Pak Gik menjamin tidak ada "getok harga". Daftar harga tetap stabil demi menjaga kepercayaan pelanggan:
-
Jenang: Rp12.000 (kecil) – Rp45.000 (besar).
-
Wajik & Jadah: Mulai Rp10.000 hingga Rp38.000.
-
Madumongso: Rp70.000/kg.
-
Sambel Pecel: Rp60.000/kg.
Eksistensi Jajanan Tradisional
Fenomena ini menjadi bukti bahwa oleh-oleh modern belum mampu menggeser posisi jenang dan wajik di hati masyarakat.
Perputaran ekonomi di sektor UMKM Magetan pun bergerak sangat cepat selama libur lebaran 2026 ini.
"Alhamdulillah, ini berkah lebaran. Bukti kalau jajanan tradisional tidak kalah kelas dengan oleh-oleh modern," pungkasnya bangga. (ril/naz)
Editor : Mizan Ahsani