Jawa Pos Radar Magetan – Ketergantungan terhadap dana transfer pusat menjadi perhatian serius di Magetan.
Pemangkasan transfer ke daerah (TKD) memaksa pemkab mencari sumber pembiayaan alternatif melalui optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD).
Ketua DPRD Magetan Suratno menegaskan, peningkatan PAD kini menjadi keharusan.
Namun, langkah yang ditempuh bukan dengan menaikkan pajak atau retribusi.
’’Kita tidak menaikkan pajak atau retribusi, tapi memaksimalkan potensi dan menekan kebocoran,’’ ujarnya, Sabtu (28/3).
Sektor pariwisata menjadi fokus utama. Salah satunya kawasan wisata Telaga Sarangan yang selama ini masih menggunakan sistem retribusi manual.
Menurutnya, sistem tersebut rentan terhadap kebocoran.
DPRD mendorong penggunaan sistem digital seperti e-ticketing dan QRIS untuk meningkatkan transparansi.
’’Kalau dulu belum berani e-ticketing atau QRIS, sekarang harus berani melakukan gebrakan,” tegasnya.
Selain itu, indikator ekonomi daerah juga akan terus dipantau berdasarkan data dari Pemprov Jatim.
Wilayah dengan jumlah penduduk besar seperti Parang dan Panekan menjadi perhatian.
Optimalisasi PAD diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga berdampak langsung pada penurunan angka kemiskinan.
Dana yang diperoleh diharapkan bisa dialokasikan kembali untuk pembangunan di wilayah-wilayah prioritas. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto