Jawa Pos Radar Magetan – Penyakit Leptospirosis kembali memakan korban. Satu warga di Magetan meninggal dunia usai terpapar penyakit kencing tikus tersebut.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan mencatat total tiga kasus dalam empat bulan terakhir.
Dua di antaranya warga Magetan, sedangkan satu kasus lain berasal dari Pacitan yang diduga terpapar saat beraktivitas di wilayah Magetan.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Magetan Suwantiyo mengatakan, kasus pertama ditemukan 24 Maret di Desa Dukuh, Kecamatan Lembeyan.
Disusul kasus kedua pada 4 April di Desa Sombo, Kecamatan Poncol.
“Total ada tiga kasus yang berkaitan dengan aktivitas di Magetan,” ujarnya, kemarin (26/4).
Dari dua pasien warga Magetan, satu di antaranya meninggal dunia saat menjalani perawatan di RS Muhammadiyah Ponorogo.
Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan bakteri leptospira.
Penularannya melalui urine atau darah hewan terinfeksi seperti tikus, sapi, anjing, dan babi.
Paparan umumnya terjadi saat seseorang beraktivitas di lingkungan terkontaminasi, terutama di area persawahan atau genangan air.
Gejala awal menyerupai flu, seperti demam dan nyeri otot. Namun, dalam kondisi berat dapat berkembang menjadi gangguan organ yang berujung fatal.
Suwantiyo mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi yang bekerja di lingkungan berisiko.
Penggunaan alat pelindung diri seperti sepatu bot dan sarung tangan sangat dianjurkan.
Selain itu, warga diminta menghindari kontak langsung dengan air yang diduga tercemar.
Masyarakat juga diingatkan menjaga kebersihan lingkungan dari hama tikus serta memastikan konsumsi air bersih.
“Termasuk vaksinasi pada hewan peliharaan dan ternak untuk mencegah penularan,” tandasnya. (ril/her)
Editor : Hengky Ristanto