Jawa Pos Radar Magetan – Persoalan sampah di Kabupaten Magetan dinilai sudah memasuki tahap darurat.
Kalangan legislatif mendorong pemerintah daerah segera mengadopsi teknologi oksinerator sebagai solusi penanganan sampah.
Ketua Komisi D DPRD Magetan, Riyin Nur Asiyah, mengatakan volume sampah terus meningkat sementara kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) semakin terbatas.
“Kondisi sampah sekarang sudah darurat. Pemkab harus segera memanfaatkan teknologi ini,” ujarnya, kemarin (6/5).
Menurut Riyin, teknologi oksinerator tidak hanya mampu mengurangi volume sampah, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi sumber energi listrik sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup.
Dia menilai teknologi tersebut lebih ramah lingkungan dibanding metode pembakaran konvensional karena suhu pembakarannya mencapai lebih dari 1.000 derajat Celsius sehingga menghasilkan emisi minimal.
“Ini bukan lagi incinerator biasa, tetapi oksinerator yang lebih aman dan ramah lingkungan,” jelasnya.
Dukungan tersebut muncul setelah Komisi D DPRD Magetan melakukan sidak dan mendengarkan paparan inovasi alat pengolah sampah karya Kepala Desa Taji, Sigit Supriyadi.
Dalam presentasi di Aula Kantor Desa Taji, Sigit menjelaskan alat tersebut mampu mengolah hingga tujuh rit sampah per hari tanpa menggunakan bahan bakar fosil maupun listrik.
“Bahan bakarnya tetap sampah itu sendiri dengan dukungan oksigen,” katanya.
Sigit menambahkan, teknologi oksinerator itu kini sedang diajukan hak patennya dengan dukungan Badan Riset dan Inovasi Nasional.
“Untuk hasil pembakarannya normal tanpa asap dan tanpa bau,” ujarnya. (ril/her)
Editor : Hengky Ristanto