Jawa Pos Radar Magetan – Tumpukan stok yang tak kunjung terserap dan harga jual yang terus merosot jadi bayang-bayang kelam bagi pelaku usaha peternakan di Magetan.
Kondisi pelik itu mendorong Asosiasi Peternak Ayam Petelur Magetan mencari jalan keluar bersama pemerintah daerah.
Lewat pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Magetan kemarin (11/5), para peternak membedah persoalan stok hingga anjloknya harga telur sekaligus merumuskan solusi bersama.
“‘Kami berterima kasih telah diterima dengan baik,’’ ucap Surohman.
Beberapa persoalan krusial rupanya tak bisa langsung dieksekusi di tingkat kabupaten.
Masalah tata niaga bibit ayam atau day old chick (DOC) serta melambungnya harga bahan baku pakan disebut menjadi kewenangan pemerintah pusat.
Kendati demikian, pemkab tak tinggal diam dan langsung menyiapkan langkah intervensi pasar.
Pemerintah berkomitmen membantu penyerapan hasil produksi peternak melalui ASN dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“‘Alhamdulillah apa yang menjadi keluh kesah kami telah diterima dengan baik dan sudah ada solusi terbaik bagi kita semua,’’ kata Surohman.
Selain intervensi pasar, peternak juga menyoroti pentingnya penanganan masalah dari hulunya, yakni pembaruan basis data peternakan.
Kurang sinkronnya data populasi ayam dan kapasitas produksi dinilai menjadi salah satu penyebab utama oversupply hingga harga telur anjlok di pasaran.
“‘Supaya tidak terjadi oversupply,’’ paparnya.
Karena itu, pembaruan data secara komprehensif dianggap menjadi kebutuhan mendesak demi menjaga keberlangsungan usaha peternak ayam petelur.
“‘Maka diharapkan kita punya data yang betul-betul valid, mulai jumlah peternak, populasi, produksi hingga kebutuhan secara nasional,’’ tandas Surohman. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto