Jawa Pos Radar Magetan – Industri kulit Magetan mulai diarahkan naik kelas.
Pemkab tidak lagi ingin hasil penyamakan didominasi penjualan kulit lembaran, melainkan diolah menjadi produk jadi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM) Magetan Joko Trihono mengatakan, Magetan memiliki modal kuat untuk memperbesar industri hilir kulit.
Keberadaan sentra penyamakan yang telah dikenal secara nasional menjadi fondasi penting pengembangan sektor tersebut.
Namun, saat ini sebagian besar hasil penyamakan masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku.
Padahal, nilai ekonomi yang dihasilkan akan jauh lebih besar apabila diolah menjadi produk siap pakai seperti sepatu, sandal, tas, dompet, maupun aksesori.
“Target kami ada peningkatan sekitar 25 persen. Kami ingin produk kulit Magetan keluar dalam bentuk barang jadi, bukan lagi hanya kulit lembaran,” ujarnya, Senin (1/6).
Menurut Joko, porsi produk jadi yang dihasilkan perajin lokal saat ini masih di bawah 20 persen dari total kapasitas produksi kulit yang ada.
Kondisi tersebut membuat potensi nilai tambah ekonomi belum sepenuhnya dinikmati pelaku usaha maupun tenaga kerja lokal.
Karena itu, pemkab terus mendorong pelaku usaha memperbesar produksi barang jadi sekaligus memperkuat daya saing industri kulit Magetan di pasar yang lebih luas.
Selain hilirisasi, perajin juga diminta lebih adaptif terhadap tren pasar.
Produk kulit Magetan dinilai memiliki peluang menembus segmen menengah hingga premium apabila didukung desain yang lebih modern, kualitas finishing yang baik, serta strategi pemasaran yang mengikuti perkembangan zaman.
“Selama ini dikenal awet dan murah. Ke depan kami ingin produk kulit Magetan juga dikenal memiliki desain menarik dan nilai tambah tinggi sehingga mampu bersaing dengan produk branded,” tegasnya. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto