Jawa Pos Radar Magetan – Ancaman bencana alam di Kabupaten Magetan belum sepenuhnya mereda.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magetan mencatat sedikitnya 16 kejadian bencana dan peristiwa penting sepanjang Mei 2026.
Dari seluruh kejadian yang tercatat, tanah longsor menjadi jenis bencana yang paling mendominasi.
Kondisi geografis Magetan yang didominasi kawasan perbukitan membuat potensi pergerakan tanah masih menjadi ancaman serius, terutama saat cuaca tidak menentu.
Kepala Pelaksana BPBD Magetan Eka Radityo mengatakan, karakteristik wilayah Magetan menjadi faktor utama tingginya risiko bencana longsor dibandingkan jenis bencana lainnya.
"Terutama saat cuaca tidak menentu," ujarnya.
Menurut Eka, kawasan perbukitan yang tersebar di sejumlah wilayah membutuhkan perhatian khusus karena rentan mengalami longsor ketika curah hujan tinggi maupun saat terjadi perubahan cuaca secara ekstrem.
Selain kejadian longsor, BPBD Magetan juga mencatat dua peristiwa cuaca ekstrem selama Mei lalu.
Tidak hanya itu, petugas turut menangani empat kegiatan evakuasi dan penyelamatan hewan yang dilaporkan masyarakat.
Meski tidak menimbulkan korban jiwa, sejumlah kejadian tersebut tetap mengakibatkan kerusakan pada fasilitas umum maupun properti milik warga.
Data BPBD menunjukkan bencana yang terjadi sepanjang Mei menyebabkan kerusakan pada tiga unit rumah warga, dua ruas jalan umum, serta satu unit jembatan.
Kerusakan infrastruktur tersebut langsung menjadi perhatian pemerintah daerah agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat dan mobilitas warga di wilayah terdampak.
Eka mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana, terutama mereka yang tinggal di kawasan rawan longsor dan daerah perbukitan.
Menurutnya, nihilnya korban jiwa bukan berarti ancaman bencana telah berakhir. Kewaspadaan tetap diperlukan mengingat kondisi cuaca yang masih berpotensi berubah sewaktu-waktu.
"Kami berharap masyarakat tidak lengah hanya karena tidak ada korban jiwa," tegasnya. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto