Jawa Pos Radar Magetan - Polemik rencana tambang galian C di Desa Sayutan, Kecamatan Parang, kian memanas.
DPRD Magetan meminta aktivitas pertambangan yang dikelola CV Persada Tunggal Abadi dihentikan sementara menyusul munculnya kekhawatiran terhadap keselamatan warga dan ancaman kerusakan lingkungan.
Desakan itu mengemuka setelah tim terpadu yang melibatkan unsur legislatif dan eksekutif melakukan inspeksi langsung ke lokasi tambang, kemarin (9/6).
Ketua Komisi D DPRD Magetan Riyin Nur Asiyah mengungkapkan, kawasan yang direncanakan menjadi lokasi penambangan berada dekat dengan sejumlah objek vital milik masyarakat.
Mulai sumber mata air yang dimanfaatkan warga, kawasan permukiman, lahan pertanian produktif, hingga area pemakaman.
“Di sekitar area tambang terdapat mata air yang digunakan warga, dekat dengan permukiman penduduk, makam warga, serta lahan pertanian,” ujarnya.
Selain potensi terganggunya sumber air, DPRD juga menyoroti kondisi geografis kawasan tersebut yang dinilai tidak aman untuk aktivitas pertambangan skala besar.
Hasil peninjauan lapangan menemukan sejumlah retakan tanah di sekitar lokasi yang mengindikasikan tingginya risiko pergerakan tanah.
Menurut Riyin, karakter tanah merah di kawasan Sayutan sangat rentan longsor apabila dilakukan pengerukan menggunakan alat berat.
“Kontur tanah di sini sudah terbukti sangat berisiko. Tanah merah seperti ini apabila dikeruk alat berat sangat rentan longsor,” paparnya.
Karena itu, Komisi D meminta seluruh aktivitas yang berkaitan dengan rencana operasional tambang dihentikan sementara hingga kajian menyeluruh selesai dilakukan.
DPRD juga berencana menggelar koordinasi lanjutan bersama Polres Magetan serta melakukan dialog dengan para pemilik lahan yang terlibat dalam rencana proyek tersebut.
Langkah itu dilakukan untuk memastikan proses penyewaan lahan, komunikasi perusahaan dengan warga, hingga dampak lingkungan yang berpotensi muncul dapat dipetakan secara utuh.
“Keselamatan masyarakat dan lingkungan harus jadi prioritas. Jangan sampai terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan hanya demi keuntungan,” tegas Riyin. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto