Jawa Pos Radar Magetan – Fungsi Skatepark Alun-Alun Magetan kembali menjadi sorotan.
Fasilitas olahraga ekstrem tersebut masih sering digunakan sebagai tempat bermain anak dan area bersantai pengunjung, sehingga dinilai membahayakan keselamatan sekaligus mengganggu aktivitas latihan para skater.
Keluhan itu kembali mencuat setelah terjadi insiden saat komunitas skateboard berlatih pada Sabtu malam (13/6).
Seorang pengunjung diketahui membawa anaknya masuk ke area lintasan yang sedang digunakan para pemain skateboard.
Perwakilan Komunitas Magetan Skateboarding Brian Adava mengatakan, para skater telah berupaya memberikan penjelasan secara baik kepada pengunjung bahwa skatepark merupakan fasilitas olahraga dan bukan area bermain anak.
“Teman-teman sudah mengingatkan secara halus bahwa itu area skatepark dan untuk anak-anak sudah ada tempat bermain sendiri. Namun peringatan itu tidak dihiraukan,” ujarnya, kemarin (14/6).
Menurut Brian, kondisi tersebut sempat memicu ketegangan ketika seorang skater melintas di area yang dipenuhi pengunjung.
Meski tidak sampai menimbulkan kecelakaan, situasi itu dinilai sangat berisiko.
Komunitas menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa skatepark merupakan arena olahraga dengan tingkat risiko tinggi.
Akibatnya, anak-anak sering masuk ke jalur lintasan saat pemain sedang berlatih menggunakan skateboard.
“Beberapa kali hampir terjadi benturan atau jatuh karena anak-anak masuk ke area latihan,” katanya.
Brian menyebut persoalan tersebut bukan kali pertama terjadi.
Karena itu, komunitas meminta adanya langkah konkret berupa pemasangan papan peringatan dan aturan penggunaan skatepark yang lebih jelas.
Menurutnya, edukasi kepada masyarakat jauh lebih penting dibanding pembatasan jam penggunaan maupun pembagian zona khusus di dalam area skatepark.
“Yang lebih penting adalah edukasi dan kesadaran bersama agar fasilitas digunakan sesuai peruntukannya,” tegasnya.
Selain aspek keselamatan, komunitas juga berharap adanya perhatian terhadap pengembangan fasilitas latihan.
Selama ini para skater harus bergotong royong dan mengumpulkan dana secara mandiri untuk menambah obstacle atau sarana pendukung latihan.
Mereka berharap pemerintah dapat membantu penyediaan fasilitas sekaligus memperjelas aturan penggunaan agar skatepark dapat dimanfaatkan sesuai fungsi utamanya sebagai ruang olahraga dan pembinaan atlet muda.
“Kami berharap ada plang peringatan dan aturan penggunaan yang jelas agar kejadian serupa tidak terulang,” tandas Brian. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto