Jawa Pos Radar Magetan – Permainan tradisional egrang kembali mendapat panggung di tengah gempuran era digital.
Ratusan pelajar SD dan SMP dari berbagai kecamatan di Magetan ambil bagian dalam lomba egrang yang digelar di area Stadion Yosonegoro, kemarin (17/6).
Kegiatan yang diinisiasi Pemkab Magetan tersebut menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali permainan rakyat yang mulai jarang dimainkan generasi muda.
Selain melestarikan budaya, lomba juga diarahkan untuk menjaring bibit atlet olahraga tradisional.
“Tujuan utamanya mengajak generasi muda untuk kembali mengenal sekaligus melestarikan warisan budaya bangsa yang perlahan mulai terpinggirkan oleh zaman,” ujar Ketua Panitia sekaligus Pengurus KORMI Magetan Bidang Olahraga Tradisional Achmad Maarif.
Menurut Maarif, egrang memiliki keterkaitan erat dengan kearifan lokal masyarakat.
Permainan tersebut memanfaatkan bambu yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Magetan.
“Selain memanfaatkan potensi bambu yang melimpah, kegiatan ini juga menjadi upaya melestarikan warisan budaya bangsa sekaligus mencari bibit atlet olahraga tradisional dari Magetan,” jelasnya.
Perlombaan diikuti perwakilan dari 15 kecamatan untuk kategori sekolah dasar serta 12 SMP negeri se-Kabupaten Magetan.
Para peserta ditantang menyelesaikan lintasan secara estafet menggunakan egrang hingga mencapai garis finis.
Tak hanya membutuhkan kecepatan, lomba egrang juga menguji kemampuan menjaga keseimbangan, ketangkasan, dan kekompakan tim.
Kesalahan kecil saat melangkah bisa membuat peserta kehilangan keseimbangan dan terjatuh sebelum mencapai garis akhir.
Maarif menilai permainan tradisional seperti egrang tetap memiliki nilai penting di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Selain melatih kemampuan fisik, permainan tersebut juga mengajarkan kerja sama, konsentrasi, dan semangat sportivitas.
“Permainan tradisional harus tetap eksis di tengah keberagaman dan kemajuan teknologi yang luar biasa. Melalui egrang, generasi muda bisa mengenal jati diri bangsanya,” pungkasnya. (ril/naz)
Editor : Hengky Ristanto