Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Harga Telur di Magetan Anjlok Rp 19 Ribu per Kg, Peternak Mengaku Rugi Besar

Aprilita Sari • Rabu, 24 Juni 2026 | 01:30 WIB
Peternak ayam petelur di Magetan mengeluhkan harga telur yang anjlok hingga Rp 19 ribu per kilogram. AJI PUTRA/RADAR MAGETAN
Peternak ayam petelur di Magetan mengeluhkan harga telur yang anjlok hingga Rp 19 ribu per kilogram. AJI PUTRA/RADAR MAGETAN

Jawa Pos Radar Magetan – Peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan menghadapi tekanan berat.

Harga telur di tingkat kandang terjun bebas hingga Rp 19 ribu per kilogram, sementara biaya produksi mencapai Rp 25.250 per kilogram.

Kondisi tersebut membuat banyak peternak merugi dan mulai khawatir terhadap keberlangsungan usaha mereka.

Terlebih, harga pakan yang menjadi komponen biaya terbesar justru terus mengalami kenaikan.

Persoalan itu mengemuka dalam audiensi antara perwakilan peternak ayam petelur dengan Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro, Kepala Disperindag Sucipto, serta perwakilan Dinas Peternakan dan Perikanan di Ruang Rapat Suryo Kantor Bupati Magetan, kemarin (23/6).

Peternak ayam petelur Muhammad Ali mengatakan harga telur saat ini sudah jauh berada di bawah titik impas usaha.

Dengan harga pakan komplit sekitar Rp 7.300 per kilogram, peternak membutuhkan harga telur minimal Rp 25.250 per kilogram agar usaha tetap berjalan normal.

“Kalau harga sekarang jelas peternak merugi. Kami masih bisa bertahan, tetapi belum tentu mampu melakukan peremajaan ternak,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah daerah bersama peternak sepakat menjalin koordinasi dengan sentra produksi telur lain seperti Blitar dan Malang.

Langkah itu dilakukan untuk menyamakan persepsi terkait informasi harga telur yang beredar di pasar.

Menurut peternak, perbedaan informasi harga yang beredar melalui berbagai saluran turut memengaruhi psikologi pasar dan berdampak langsung terhadap harga jual di tingkat peternak.

Selain itu, peternak juga menyoroti belum optimalnya penyerapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Padahal sebelumnya Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) menyerap telur langsung dari peternak lokal.

Namun implementasi kebijakan tersebut belum berjalan maksimal.

Apalagi program MBG saat ini ikut berhenti sementara selama masa libur sekolah sehingga permintaan telur menurun.

Akibatnya, stok telur di pasaran semakin menumpuk dan memperburuk kondisi harga.

Muhammad Ali menilai akar persoalan utama saat ini adalah terjadinya oversuplai telur di pasaran.

Banyak peternak maupun investor baru meningkatkan populasi ayam petelur setelah melihat peluang pasar dari program MBG.

Sayangnya, peningkatan produksi tidak diimbangi pertumbuhan serapan pasar yang memadai sehingga pasokan berlebih menjadi pemicu jatuhnya harga.

“Banyak yang menambah populasi karena melihat peluang MBG. Akhirnya pasokan berlebih dan menjadi masalah bagi peternak sekarang,” terangnya.

Dia mengungkapkan situasi saat ini bahkan lebih berat dibanding beberapa bulan lalu ketika peternak menggelar aksi sedekah telur sebagai bentuk protes terhadap rendahnya harga jual.

Pasalnya, setelah aksi tersebut harga pakan tercatat mengalami kenaikan hingga tiga kali, sedangkan harga telur terus bergerak turun.

“Kalau tidak segera ada langkah konkret, banyak peternak yang akan kesulitan bertahan,” tandas Ali. (ril/her)

Editor : Hengky Ristanto
#harga telur magetan #harga pakan ayam #magetan #program Makan Bergizi Gratis #peternak ayam petelur